Kamis, 28 Maret 2013

Asa Murni Perantau Medan - Part 4

Siang di keesokan harinya hanya seperti hari-hari biasa, jalanan padat dan asap knalpot mobil mengambang di udara. Thursina dengan perlahan menyeberang menuju gang kecil tempat tempo hari ia bertemu pencopet-pencopet itu. Tepat seperti dugaannya, mereka berada di sana sedang menghitung tiap lembar uang yang mereka dapatkan hari itu.
                “Apa itu yang kau bawa?” tanya seorang di antara mereka.
                “Ini? Gitar tradisional Batak, aku bawa ini dari desa,” jawab Thursina dengan senyum simpul.
                “Apa yang bisa ia lakukan?” tuntutnya penasaran.
                Kemudian Thursina mulai memetiknya, satu per satu nada menjalin menjadi suatu melodi, Thursina mulai bernyanyi lembut. Irama sendu mengiringi setiap tarikan napasnya. Bergabung dalam kolaborasi yang luar biasa, seakan berada dalam satu orkestra yang menyenandungkan berbagai nada. Lembut tapi tegas, itulah lagu yang dibawakannya.
                Selama dua menit suasana hening. Ketika Thursina mengakhirinya dengan nada rendah yang pelan, perempuan di depannya mengawali tepukan tangan yang diikuti oleh sisa anggota kelompoknya.
                “Kau tidak tahu betapa menyentuhnya suara kau,” komentar sang perempuan dengan suara bergetar, “Ami,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan
                Thursina menyambutnya dengan lapang dada sambil berkata, “kenalkan, Thursina.”
                Suasana yang pada awalnya terasa tegang kini menghangat. Setiap dari mereka mengapresiasinya dengan baik, setelah perkenalan pendek, Thursina mulai mengatakan maksudnya.
                “Mencopet itu seperti orang yang pasrah akan rezeki Tuhannya. Orang yang sombong karena nyaman pada zonanya dan berhenti berdoa,”  kata Thursina,“orang Batak itu diberi kelebihan oleh Tuhan bakat menyanyi. Tak malukah kau mencuri sementara kau bisa mengamen?”
                “Mengamen itu dapatnya sedikit!” timpal yang berbadan kecil dengan keras.
                “Orang sukses itu mulai dari hal kecil dan menerima yang kecil. Semua orang juga mau langsung berpenghasilan besar! Tapi apakah hal itu akan bertahan? Bisa saja besok kalian tertangkap dan masuk penjara!” bantah gadis itu bertekad.
                “Tapi dia benar, ingatkah kalian saat kita dikejar sampai terminal? Seandainya tak ada Ucok, bisa saja sekarang kita ada di balik jeruji,” belaTiur yang paling pendiam di antara mereka.
                “Ya! Kita nyanyikan lagu-lagu Batak dan gunakan kain ulos, sambil mencari penghasilan kita lestarikan budaya!” kata Ucok semangat. Dia tampak merupakan satu-satunya yang pernah mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah.
                “Lalu kenapa tidak kita coba dari sekarang?” tantang Thursina, membuka tas-nya dan mengeluarkan kain ulos yang dia bawa dari Gunung Tua. Bersama-sama, mereka menuju jalan raya yang ramai.
                Lampu merah itu cukup lama, Thursina memberi isyarat menunduk kepada salah satu pengendara mobil. Sambil memetik gitarnya, ia bernyanyi.
                Langge inang da na dipor lakta inang da, manang so langge inang da manang solang gepe inang da… O pi-o o pi-o lao tu di ana maho o pi-o…” lantun Thursina mendayu dengan sendu.
                Sementara itu di sampingnya Ucok berjingkrak-jingkrak dengan kain ulos bernyanyi ceria,”Sinanggar tullo a tullo a tullo.. Sinanggar tullo a tullo a tullo.. Sinanggar tullo a tullo sinanggar tullo a tullo sinanggar tullo a tullo..”
                Lagu sinanggar tullo begitu menggambarkan keceriaan mereka di hari itu. Semakin terik matahari, semakin banyak peluh yang membasahi, namun demikian pula dengan kantung mereka yang semakin lama semakin terisi oleh selembaran uang bergambar Pattimura dan Pangeran Antasari.
                Begitulah akhirnya hal itu menjadi rutinitas baru mereka di kemudian hari. Tersenyum, Thursina bertekad tidak akan membiarkan grup kecil mereka ini kembali pada keterbelakangan moral seperti sebelum mereka dipertemukan. Suatu saat nanti ia akan mengajak grup kecilnya itu, ke rumah singgah “Langit Biru,” seperti yang pernah diceritakan tulangnya.
                “Langit Biru”, Sebuah sekolah khusus untuk mereka yang lahir dan hidup dirangkul talenta seni, sastra dan musik, sekolah yang disebut ‘rumah singgah’namun selalu menetap di hati. Sekolah yang sejak dahulu diimpikan oleh Thursina, agar mereka dapat mengenyam pendidikan dan mengembangkan bakat seninya. Di panggung besar yang bertirai nanti, ia berharap bersama grup kecilnya mereka akan taklukkan dunia beserta ribuan pasang mata di dalamnya.
 ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar