Kamis, 28 Maret 2013

Asa Murni Perantau Medan - Part 3


Sebuah tangan besar memukul keras dinding yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari matanya.
                “Siapa namamu?” tanyanya.
                “Thursina,” jawab gadis itu pendek.
                “Thursina?” berkali-kali mereka mempertanyakannya dengan nada heran, berkali-kali pula gadis itu menjelaskan ulang. Nama itu terasa asing di telinga mereka.
                “Aku ini datang dari Gunung Tua, di sana. Sumatra Utara, tahukah kalian?” jawab Thursina.
                “Medan?” tanya mereka kembali, diiringi gelengan membantah darinya.
                “Tidak sampai, jauh kali jarak dua tempat itu. Gunung Tua itu desa,” paparnya dengan dahi berkerut. Memegangi tas koran dan barang asongannya dengan tegang. 
                Lawan bicaranya seorang remaja tinggi besar berperawakan keras. Kulitnya coklat gelap terbakar matahari ibu kota, di berbagai tempat seperti leher dan punggung tangannya terlihat urat-urat bertonjolan dan bekas luka-luka tua yang tak tersembuhkan. Seakan memberi penyaksian bisu atas apa yang telah ia lakukan untuk mengisi harinya.
                “Lepas,kata Thursina tegas mencoba menghentakkan tangannya yang ditahan.
                “Tidak, kecuali kau bergabung dengan kami, atau berhenti mengasong di wilayah kami!” balasnya dengan suara serak mengancam.
                Wilayah kalian? Kemanakah otak kalian? Kota ini milik bersama, siapa saja berhak mencari penghasilan di sini, camkan itu!” sanggah dara tersebut dengan suara tinggi.
                “Kau yang tak pakai otak! Jangan berani-berani tantang kami, habis sudah kau ini!” balas sang pria dengan keras.
                “Kapan kutantang kau? Yang tantang aku itu kau!” potong gadis itu.
                “Diam! Kau mau mati?” ancam mereka, pria dan wanita yang berkeliling di sekitarnya. Jelas sekali mereka adalah preman wilayah.
                “Tidak sekarang dan tidak di sini, hanya pecundang yang mati lemah!” jawab Thursina membantah.
                Namun yang bisa ia lihat hanya pergerakan tangan yang cepat sebelum iya merasakan dorongan yang begitu kuat di pipi kirinya. Ngilu dan nyeri luar biasa ia rasakan beberapa saat setelah mendeteksi rasa anyir khas darah berkumpul di mulutnya.
                “Aaaargh! Puuuhh!” lepehnya sambil terbatuk-batuk, darah mengalir keluar dari gusi yang beradu dengan gigi-giginya.
                Tawa mereka terbahak-bahak seakan gadis itu lelucon siang. Gelang-gelang dan anting yang menghiasi tubuh anak-anak jalanan itu bergemerincing. Lidah mereka yang ditindik tampak semakin menghinanya.
                “Jangan kembali lagi, ini daerah kami!” dia mencibir diiringi tawa kawan-kawannya.
                “Tidak sampai kudapat pekerjaan paruh-waktu yang layak!” balas Thursina dengan emosi membuncah, sebelum ia mengayunkan tasnya yang berat ke tulang kering laki-laki itu, dan menambahkan pukulan keras tepat di perutnya.
                Raungan kesakitan terdengar samar-samar dari mulut  laki-laki itu ketika layangan tinju Thursina mengenai tubuhnya. Tidak percuma Thursina belajar bela diri di kampungnya.
                “Tak tahukah kalian betapa besar dosa mencuri itu? Tak diajarkankah?” tanya Thursina ketus.
                “Siapa yang akan ajar kami? Jakarta itu keras, jika kami lembek tak bisalah kami bertahan hidup di sini tahu!” cibir anak-anak jalanan itu.
                “Tuhan itu tidak buta! Tidak pula tuli dan bisu! Setiap yang kalian lakukan Dia akan lihat dan simpan balasannya untuk nanti. Setiap keluh kesah yang kalian ucapkan, Dia dengar itu!” balas Thursina.
                Mereka terdiam. Thursina merasakan emosi membuncah di dadanya, menarik napas panjang sebentar, kemudian ia melanjutkan bicara.
                “Jangan sekali-kali kau pikir mencopet itu jalan pintas untuk bertahan hidup! Kau bisa lakukan banyak hal, malulah dengan usia kalian yang masih muda begitu pasrah sampai mencopet!” lanjutnya menasehati.
                “Lalu apa yang kami lakukan selain mencopet?” tanya seorang di antara mereka dengan serampangan.
                “Akan kutunjukkan besok. Camkan itu! Tak pantas kau mengaku sebagai orang Batak tapi tak mau banyak usaha. Bukan budaya kami sama sekali, ujarnya sambil menutup pembicaraan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar