Kamis, 28 Maret 2013

Asa Murni Perantau Medan - Part 2


“Bu, aku pamit dulu. Sertai perjalananku dengan doa ya,” bisik Thursina ke telinga ibunya, tangan mereka berpegangan erat layaknya seseorang yang akan berpisah.
                “Jaga diri, ya Nak. Kehidupan di sana tidak mudah, belajar di sekolah yang baik. Jangan kau kecewakan ibumu ini yang sudah kasih izin kau merantau,” timpal ayahnya dengan nada serius.
                “Iya, Yah. Aku janji, aku juga akan usahakan tak repotkan kalian di sana. Aku akan cari penghasilan sendiri,” jawabnya pelan.
                “Hati-hati,” itulah yang ibu ucapkan karena sisa perkataannya ditenggelamkan oleh isakan sedih.
                Sebelum gadis itu pergi dengan menumpang truk tetangganya menuju kota, ia melambaikan tangan dengan sedih. Tapi di dalam hatinya ia merasakan desiran semangat sekaligus rasa takut. Untuk menyambung pendidikan, dengan berani Thursina hendak menyusul pamannya, merantau ke Jakarta untuk mencari SMA yang bagus sekaligus belajar mandiri.
***
                Dengung dan derum kendaraan di Jakarta seakan menggema di telinga Thursina, ia sampai di Terminal Kalideres yang ramai. Berbagai orang dari berbagai jenis kalangan sosial berseliweran, dapat dibedakan dari cara berpakaiannya. Dengan celingukan, Thursina mencari pamannya, yang dalam bahasa batak ia panggil ‘tulang’.
                “Thursina!” seseorang menepuk pundaknya. Sontak, ia terlonjak kaget.
                “Tulang! Astaga, aku kaget tau,” ujarnya jengkel.
                “Lebih baik selalu waspada dan jangan melamun, Jakarta tidak aman. Bisa saja sedetik kau melamun, dompetmu sudah raib.” kata tulang Riza memperingatkan. Di sampingnya, Thursina mengangguk-angguk sambil mengikuti beliau menuju sebuah motor tua yang akan mengantar mereka ke rumah tulangnya.
***
                Hari berganti hari, setiap fajar yang dilewatinya di Jakarta tidak pernah seindah yang dilihatnya di desa. Namun hal tersebut bukan merupakan masalah. Tak terasa, Thursina sudah menginjak bulan keduanya di sebuah SMA negeri, untuk memperoleh uang saku dan membeli alat-alat perlengkapan sekolah, setiap hari ia mengasong sekaligus menjual koran.
                “Tulang, aku masuk ya!” pamit Thursina di parkiran sekolah, tulangnya merupakan seorang guru honorer di sekolahnya, beliau mengajar pelajaran Matematika.
                “Ya, belajar yang benar ya. Kamu bersekolah di sini gratis karena kebijakan pemerintah, jangan sekali-kali kau sia-siakan hal tersebut,kata Beliau mengingatkan keponakannya itu.
                “Pasti tulang, jangan khawatir,” senyum simpul merekah di bibir Thursina.
***
                “Air mineral, Bu? Permen dan korannya?” tawar Thursina pada seorang ibu yang sedang menyetir sebuah mobil sedan.
                “Air mineral satu,” jawabnya sambil membayar. Tak lama, lampu menunjukkan warna hijau dan ia melaju.
                Thursina berdiri di bawah terik matahari, menunggu lampu merah selanjutnya dan menawarkan barang-barang. Namun tiba-tiba seorang pemuda menabrak dan merampas tas pinggangnya yang berisi hasil asongan, dengan sigap ia  menangkap tangan pemuda itu.
                “Kembalikan tasku!” perintah Thursina dengan nada berani walau sebenarnya sedikit getar takut terasa di dadanya.
                Dia menengok dan mernyeringai. Penampilannya kumal dan tidak terawat, di telinganya banyak anting yang berderet. Dengan suara serak dia berkata,”Hebat juga kau bisa sadar. Nih, tangkap!”
                “Jangan kira kau bisa membodohiku,” jawab Thursina jengkel, menangkap lemparan pemuda itu, “Kau pencopet?”
                Pemuda itu hanya mencibirkan bibirnya, kemudian ia berkata,”Tak ada gunanya kau berjualan seperti itu, yang kau hasilkan tidak sebanding dengan tenaga yang kau keluarkan. Ikut sini!”
                “Ke mana?” tanya gadis itu dingin, dengan tatapan mata tajam seolah tak peduli, ia kemudian mengatakan, “Aku tidak kenal kau siapa.”
                Ikuti saja kataku! Kalau kau masih ingin mengasong di wilayah kami,” ujarnya dengan cukup kasar.
                Kali ini balik Thursina yang ciut nyalinya, akhirnya dia mengikuti sang pemuda dengan berjalan malas-malasan ke sebuah gang kecil. Di sana ia melihat banyak anak-anak seusianya yang berpakaian serampangan, lusuh, dan bertato.
                “Dengarkan cara bicaranya!” perintah pemuda itu pada kawan-kawannya sambil mengedikkan kepala ke arah Thursina.
                “Apa maksud kau?” kata Thursina heran dengan kening berkerut.
                “Ahhhh!” seorang wanita di antara mereka berteriak kaget, “Kau ini orang Batak! Pasti kau baru di sini?”
                “Bagaimana kau tahu? Apa hubungannya? Apa mau kalian?” tuntutnya semakin jengkel karena merasa dikerjai.
                “Logat kau kentara sekali,” sambung seorang pemuda berbadan mungil di pojok.
                “Kami ini semua orang batak, kecuali dia dan dia,” jelas pemuda yang pertama menunjuk dua orang di depannya.
                “Kau juga! Gabung dengan kami dan jangan mengasong. Kau hanya akan dapat capeknya!”  perintah si wanita
                Dengan cepat Thursina menggeleng dan berkata keras,”Lebih baik aku kehabisan tenaga dan mendapat uang sedikit tapi dengan cara yang benar daripada mencopet seperti kalian!”
                Gelak tawa memenuhi udara, nada mereka meremehkan dan tidak percaya. Namun, Thursina masih tetap berdiri di tempatnya, berusaha tenang dan mengendalikan diri.
                “Tak ada lagi yang perlu kubicarakan,” tutupnya dingin sambil berbalik.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar