Kamis, 28 Maret 2013

Asa Murni Perantau Medan - Part 1


Fajar baru saja menyingsing di Timur sana. Tampak mentari masih enggan bangun dan udara dingin masih terasa menusuk tulang. Saat orang-orang masih terlelap pulas. Namun tidak dengan dia, mengayuh sepedanya melintasi pematang sawah, melangkah menuju sekolahnya dengan pasti.
Keringatnya mengalir di pelipis, napasnya sedikit terengah-engah. Kaos putihnya sudah lembab akibat keringat, tapi wajahnya berseri-seri penuh semangat. Gadis itu tetap mengayuh sepeda tuanya yang terlihat berkarat di beberapa tempat dengan mantap. Dia mengenakan rok berwarna biru tua menandakan identitasnya sebagai murid SMP.
                Namanya Thursina Nauli Harahap, dia tinggal di pelosok Sumatra, di Desa Gunung Tua Jaya yang berjarak beberapa jam dari Kota Medan. Dia duduk di kelas IX SMP Bintang Timur, setiap hari dia menuruni bukit dengan sepeda tua milik ayahnya, melewati persawahan dan menyeberangi jembatan gantung untuk pergi ke Desa Padang Bolak, tempat dimana dia bersekolah setiap hari.
                Dengan gigih hal tersebut ia lakukan setiap hari, ayahnya seorang buruh yang rajin, dengan penghasilannya yang pas-pas an dan dibantu ibu yang menerima pesanan makanan untuk perayaan-perayaan, mereka berhasil menyekolahkan kedua kakak Thursina sampai lulus perguruan tinggi. Kedua kakaknya sudah merantau ke pulau Jawa, mencoba mandiri dengan mencari penghidupan di luar tanah kelahiran mereka.
                Orang Batak terkenal akan sifat mereka yang gigih dan pantang menyerah. Namun diiringi juga dengan sifat keras kepala serta harga diri yang tinggi. Dalam kamus mereka tidak ada kata bermalas-malasan dalam hidup, cita-cita mereka selalu terpaut tinggi dan ikatan moral yang sudah ditanamkan sejak bayi menjadi akar yang menjaga mereka agar selalu menjejak bumi.
***
                Pengumuman kelulusan baru saja diselenggarakan di sekolahnya, Thursina dan ibunya pulang dengan hati berbunga-bunga. Gadis itu berhasil meraih nilai akhir yang memuaskan dan tertinggi di sekolahnya. Pikirannya melayang akankah dia bisa menggapai cita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi dengan kondisi ekonomi orangtuanya yang cukup sulit. Sesampainya di rumah Thursina terkejut disambut oleh sang ibu yang ternyata telah membuat pangupa sebagai tanda syukur atas kelulusannya.
“Nak, setiap makanan yang ada di tampah ini memiliki arti tersendiri, itulah mengapa ibu buatkan pangupa ini untuk rayakan kelulusanmu, ini juga merupakan doa dari ibu padamu, Nak,” Ibu menjelaskan maksudnya dengan lembut.
“Pertama, kepala kambing menggambarkan kekuatan, tapi tidak selalu harus kepala kambing, kalau acara keluarga kita cukup memakai ayam panggang utuh. Tapi sebaliknya, jika kau adakan acara besar dan punya banyak rezeki, kau bisa memotong kerbau dan kepalanya kau gunakan untuk pangupa,” ujar ibunya kemudian sambil menghela nafas.
“Kedua, ikan mas di kanan-kiri melambangkan bahwa selalu ada yang mengiringi kita dalam hidup ini, yaitu keluarga kita. Ketiga, telur. Telur dan garam menunjukkan kepulihan semangat kita, ibaratkan telur itu sebuah benih. Keempat, udang dan daun singkong. Udang yang bentuknya selalu bengkok menyuruh kita untuk selalu rendah hati, kapanpun dan siapa pun kita, sedangkan daun singkong yang diikat melambangkan tali persaudaraan yang selalu erat. Dan lauk-lauk lainnya ada untuk menambah stamina kita, kata ibunya.
                Thursina terdiam. Tapi kemudian dia membuat kesimpulan, “Bagus kali ya, Bu, makna dari semua ini. Kalau saja kita semua memahami dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita akan jadi pribadi yang kuat.”
                “Dan pribadi yang kuat, akan membawa kita pada kesuksesan, kesuksesan itu berawal dari mimpi. Selama kita selalu berpegang teguh pada keyakinan dan berdoa kepada yang Maha Mencipta, tentu bukan tak mungkin suatu saat kau jadi orang besar,” tambah ibu.
“Ibu sangat bersyukur punya anak secerdas kau, nak. Ibu selalu mengiringi setiap langkahmu dengan doa, seperti yang dilambangkan ikan mas. Karena itu jangan takut untuk bermimpi. Kau akan berhasil meraihnya, Nak!” kata ibunya sambil berkaca-kaca.
Thursina tersenyum lebar. Ia langsung memeluk ibunya erat, orang yang sangat dicintainya, orang yang selalu ada saat ia membutuhkannya. Dalam hati gadis itu berjanji akan membahagiakannya.
“Bu? ” tanya Thursina tersendat.
“Ya, ada apa nak?” jawab ibu sambil mengelus kepala Thursina.
“Bu, bagaimana kelanjutan sekolahku?” tanyanya tegang.
“Ibu tahu kau pasti menanyakan hal itu, walau berat kami memutuskan kau akan kami titipkan tulangmu yang di Jakarta,” jawab ibunya dengan nada sedih.
“Bu, aku janji, aku pasti buat ibu bangga. Nanti, pasti.” gumamnya sambil mengeratkan pelukan. Dia dapat merasakan, getar dada ibunya yang menangis terharu. 
Burung wallet yang beterbangan dan mentari sore yang bersinar itu pun menjadi saksi bisu janji tulus seorang anak pada ibunya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar