Rabu, 02 Januari 2013

In My Loneliness - Part 4

Sinar temaram matahari sore menyelusup membangunkanku dari mimpi yang panjang. Dalam posisi meringkuk memeluk tangan aku tersadar. Entah bagaimana aku tertidur, tapi sekarang hari sudah senja. Aku duduk di pinggir ranjang mendapati diri masih berpakaian jeans lengkap dengan kaus ungu dan sweater hangat. Aku membuka lemari baju yang berdebu, berjejer bermacam pakaian tua, mulai dari dress berhias mawar hingga gaun tidur satin yang lembut.

Aku tersenyum sendiri, pasti pernah ada anak perempuan yang menempati kamar ini. Hanya saja, sudah lama sekali sejak terakhir kalinya. Aku berkeliling di lantai atas, kemudian turun dan berkeliling di taman. Daun-daun yang hijau dan basah menandakan hujan sempat turun. Aku menuju rumah pelayan di belakang rumah, rumah itu mungil terdiri dari beberapa ruang tidur, kamar mandi, dan ruang untuk menyetrika pakaian.

"Permisi," sapaku melongok kedalam rumah. Seorang pelayan keluar dari kamarnya.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. "Joan, dan nama Anda nona?"
"Annelise. Maaf saya tidak bermaksud mengganggu," aku menjawab sambil mengangguk kecil. "Saya hanya berpikir apakah Mrs. Moreau menyiapkan baju ganti untuk saya? Karena yah tidak ada lagi baju yang saya punya. Semua sudah habis."
"Ya, tentu saja. Wanita baik hati itu menyediakan beberapa untuk Anda," ujarnya sambil berjalan ke dalam. Tak lama ia kembali membawa beberapa setel pakaian rumah.
"Terima kasih, maaf merepotkanmu," kataku berterima kasih. Aku pun kembali ke rumah utama. 
  
Di depan pintu aku berpapasan dnegan bibi, beliau tampak anggun dalam gaun rumah berwarna coklat tanah. Ia melihatku dan matanya berbinar.

"Kamu sudah ambil baju slainmu? Bagus sekali, maaf bibi baru bisa menyediakan beberapa setel. Tapi jangan khawatir, besok kita belanja ya! Kamu butuh banyaaaak sekali barang," ujarnya semangat. "Wah, jadi tidak sabar untuk besok!" 
Jujur saja, saat itu ia lebih terlihat seperti anak kecil yang tidak sabaran dibanding wanita elegan yang kutemui tempo hari di rumah sakit. 
"Baiklah bi terima kasih banyak, aku juga tidak sabar," jawabku sambil menatap matanya yang berwarna coklat muda. Sorot mata yang sama dengan papa, sorot yang sangat kurindukan. 
***
Benci. Aku benci gelap. Aku benci malam hari. Aku benci, benci, benci. Karena semua itu mengingatkanku pada malam dimana aku kehilangan semuanya. Aku memeluk boneka beruangku dengan erat mencoba menghalau ketakutan. Aku pejamkan mata serapat mungkin, namun itu hanya membuatku lelah dan tak berguna. Akhirnya aku menyerah dan membuka mata. Aku menyalakan lampu tidur di atas kepalaku, aku turun dan membuka jendela. 

Udara malam bertiup menerbangkan rambut coklatku. Masih dengan memeluk boneka beruang, aku memanjat pagar beranda. Duduk di atasnya dan menikmati kesendirianku. Kota di sana tampak berkelap-kelip. 

"Indah," kataku pada diri sendiri.

Tapi definisi indah tidak pernah lagi sama baginya karena ia sudah banyak kehilangan hal-hal yang paling indah menurutnya..

***
It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar