Senin, 04 Juni 2012

In My Loneliness - Part 3

Aku berpikir dalam diam, satu minggu telah berlalu tanpa terasa. Aku menghubungi nomer yang tertera. Di ujung sana pria itu menjawab. Aku pun mengutarakan maksud dengan serius. Dia pun menjawab dengan nada serius, dan telepon itu diakhiri dengan salam formal.
***
Aku sampai di kediaman pria yang mendatangiku kira-kira seminggu yang lalu. Paman Moreau, begitu aku memanggilnya. Saat ini aku sudah dinyatakan cukup sehat untuk keluar dari kamar inap dan pulang. Tapi kemana aku akan pulang? Jelas saat ini aku sebatang kara, karena itu aku memutuskan untuk menerima ajakan paman tinggal dengannya. 
Bukan keputusan mudah, memang. Tapi aku tidak boleh melihat terus masa lalu yang sudah terlewat. Semakin aku melihat, semakin mundur pula arah jalanku. Karena itu aku mencoba melawan 1000 keinginan untuk berdiam diri di masa yang terlewat itu dan mencoba melangkah maju.
Ya, dan di sinilah sekarang aku berada, di sebelah wanita muda yang kupanggil Bibi Moreau. Dengan baik hati ia menunjukkan sebuah kamar di lantai 2 rumahnya yang besar ini untuk kutempati. Dengan beberapa kali anggukan kecil, dia pun meninggalkanku sendiri di kamar itu. Perlahan mataku menyapu seisi ruangan. Rapih dan terawat. Namun aura yang kurasakan begitu sepi, dan saat kusapukan tangan pada dinding yang sedikit kusam, debu berpindah ke tanganku. Entah kamar siapa ini, namun bisa dipastikan telah lama tak ditinggali.
Aku berjalan ke arah jendela yang tinggi di ujung, kaca bening yang ditutupi tirai biru pastel kusibakkan. Terlihat sebuah pemandangan yang menentramkan. Dapat kulihat dari jauh menara Eiffel yang megah dan taman yang asri. Semilir angin menggoyangkan ranting-ranting cemara pelan. Udara tampak cerah dan sedikit berangin. Membawaku pada sepotong ingatan yang sudah terlupa.
                               ***
"Ayah, Ibu! Ayo cepat, bagaimana kalau kita tidak kebagian tempat?" seruku panik sambil memanggil mereka. Aku merasa seperti pinguin yang berjalan, dengan mantel musim dingin yang tebal serta topi rajutan abu-abu yang hangat.
"Jangan terburu-buru begitu, tentu saja kita kebagian tempat. Di musim seperti ini tidak seramai ketika cuacanya hangat." jawab ibu tenang. Aku pun semakin merajuk. Tanpa pikir panjang aku berlari mendahului. Ketika itu jalan yang berlapis es terasa begitu licin.
"Jangan berlari, nak!" teriak ayah memanggil dari jauh. Awalnya aku hendak menengok ke belakang, tapi yang terjadi malah aku kehilangan keseimbangan. Sepatu boots-ku tidak membantu sama sekali, aku pun jatuh terduduk.
Tangisan kerasku membahana, ayah dan ibu segera menyusulku. Ibu yang lemah lembut menggendongku dan menghibur, sementara ayah mencoba mengalihkan perhatian. Ketika aku berhenti menangis, dengan penuh kesabaran ayah menasihatiku.
"Jangan lagi berlari seperti itu ya, ayah tahu kamu anak baik. Jangan takut tidak kebagian tempat, menara Eiffel yang sangat kau sukai itu tidak sempit." canda ayah bijak. Aku pun mangut-mangut masih dengan mata yang merah dan sembab.
Ya, liburan yang menyenangkan itu terjadi ketika aku berusia tujuh tahun. Aku rindu menara itu, juga ayah dan ibu...
It isn't finished yet