Kamis, 12 April 2012

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 5


Ibu Thursina tergopoh-gopoh membawa pangupa-nya ke balai desa. Matahari tampak sangat cerah seakan ikut ber-euforia telah jadinya jembatan desa. Acara diawali dengan makobar. Makobar adalah istilah untuk duduk bersama dan saling memberi nasihat. Makobar kali ini diawali oleh Pak Kades.
“Segala puji bagi Tuhan yang telah merestui kehandiran kita semua di sini, dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Saya bersyukur akan jadinya jembatan permanen yang tentunya akan membuka desa ini lebih, kepada publik..”
Petuahnya diungkapkan selama lebih dari lima menit, sebelum dilanjut oleh orang-orang penting di desa dengan nasihat bernada serupa. Akhirnya sampailah pada acara pembukaan. Penari tor-tor menghibur para warga, Thursina pun turut menyumbangkan suara emasnya. Gelak tawa memenuhi udara, atmosfer ceria terasa dimana-mana. Semua menari bersama. Acara ini selain untuk syukuran juga untuk mempererat tali kekeluargaan, dan bagi yang belum saling kenal, acara ini menjadi tali penghubung yang penting.
***
Dia duduk di depan rumahnya. Seorang ibu tua tampak kesepian menatap langit. Suaminya masih bekerja di sawah. Walau sudah berusia senja, namun suaminya masih semangat bekerja, demi dirinya, istri tercinta. Ketiga anak mereka sudah merantau jauh ke sana. Walau dalam adat batak harus ada seorang anak yang menemani, tapi mereka membiarkan anak-anaknya bebas, tidak ingin membebani.
Lewatlah seorang pria dengan kendaraannya, membawa paket kiriman.
“Paket!” seru pria itu. Dia turun dan menghampiri sang ibu tua, “Bu, ada kiriman untuk ibu. Tolong tanda tangani ini, ini, dan ini.”
Wanita tua itu melakukan apa yang disuruh  dan ketika pria itu sudah meninggalkannya, dia membuka amplop coklat besar tersebut. Ia mendapati lima buah eksemplar koran dikirimkan kepadanya bersama sebuah surat. Ia tidak dapat membacanya, sepertinya koran itu diterbitkan dalam bahasa asing. Dia melihat salah satu nama koran tersebut ‘New York Times’.
Apa itu? pikirnya. Tapi penasarannya langsung sirna dan rasa rindu datang menyerbu. Foto seorang perempuan yang membawa sebuah gitar tradisional, senyum yang tidak asing. Thursina
            Lalu beliau menyadari, ada salah satu dari koran-koran yang diterimanya berbahasa Indonesia. Dengan keadaan mata yang sudah rabun dia berusaha membacanya.
Thursina Nauli Harahap, 23 tahun, berhasil mendapat penghargaan dalam nominasi penyanyi tradisional terbaik dalam sebuah ajang budaya bergengsi di New York, Amerika Serikat. Gadis asal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara ini mengaku dalam sebuah wawancara, ‘Semua tak akan bisa terjadi tanpa izin Allah dan tanpa dukungan keluarga saya. Terutama ibu saya, saya sangat mencintainya, dia pahlawan paling berarti dalam hidup saya’. Thursina juga berkata bahwa dia akan segera pulang ke kampungnya dalam waktu dekat.
Titik-titik air mata terjatuh. Berjuta rasa syukur ia tunjukkan pada yang Maha Kuasa di atas sana. Anaknya berhasil, sukses, seperti apa yang pernah ia janjikan.
***
 END
Nurul Afifah Harahap
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar