Kamis, 12 April 2012

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 1

Oke, ini cerpen yang dibuat untuk lomba FLS2N dari Diknas, tapi sayangnya gak lolos ke tingkat selanjutnya :'| That's very hurt
       ***
Keringatnya mengalir di pelipis, napasnya sedikit terengah-engah. Kaos putihnya sudah lembab akibat keringat, tapi wajahnya berseri-seri penuh semangat. Gadis itu tetap mengayuh sepeda tuanya yang terlihat berkarat di beberapa tempat dengan mantap. Dia mengenakan rok berwarna biru tua dan menggendong sebuah tas berisi buku-buku yang sudah melesak di bagian bawahnya
            Fajar baru saja menyingsing di Timur sana. Tampak mentari masih enggan bangun dan udara dingin masih terasa menusuk tulang. Dimana biasanya orang-orang masih terlelap pulas. Tapi tidak dengan dia, mengayuh sepedanya melintasi pematang sawah, melangkah menuju sekolahnya dengan pasti.
            Namanya Thursina Nauli Harahap, dia tinggal di Desa Gunung Tua Jaya. Dia duduk di kelas 1 SMPN 12, setiap hari dia menuruni bukit dengan sepeda tua milik ayahnya, melewati persawahan dan menyeberangi jembatan gantung untuk pergi ke Desa Padang Bolak, tempat dimana dia bersekolah setiap hari.
            Butuh 25 menit untuk sampai di sekolahnya dengan sepeda, karena itu dia biasa berangkat saat langit pagi belum merekah, lebih pagi dari teman-temannya. Sekitar pukul enam pagi dia sampai di sekolah, dia sandarkan sepeda tuanya di pohon rindang di dalam halaman. Untuk berjaga, dia mengikat sepedanya dengan tali ke pohon.
            Waktu selalu terasa cepat di sekolah, karena Thursina sangat menikmati kegiatan belajarnya. Sekolah selesai pukul dua belas. Matahari bersinar terang di atas kepala, tapi walau begitu udara tetap terasa sejuk karena desa itu terletak di dataran tinggi. Sambil mengayuh, gadis mungil itu bernyanyi.
Senandung merdu keluar dari mulutnya, paduan nada-nada indah dan siulan burung, menjadi satu dan menghasilkan melodi baru yang menentramkan. Ya, menyanyi adalah salah satu keahliannya, biasanya dia mengiringi dengan gitar tradisional, bernyanyi di atas bukit dekat rumahnya.
 Dia hidup di lingkungan dengan adat Batak yang masih cukup kental, hanya saja mayoritas penduduk Desa Gunung Tua Jaya beragama Islam walau kebanyakan nenek moyang mereka menganut kepercayaan Animisme.

It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar