Kamis, 12 April 2012

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 4


Perlu waktu dua minggu untuk kembali membangun jembatan. Seluruh warga desa bergotong royong membangunnya, dengan dana pemerintah daerah, mereka membangun jembatan permanen yang cukup lebar. Tidak lagi jembatan gantung seperti dulu. Tujuannya agar lebih kuat sekaligus untuk membuka desa.
Dan setelah jembatan itu jadi, diadakan syukuran di balai desa. Sebelumnya kepala desa sudah memesan sebuah pangupa kepada ibu.
“Tet, buteeet?” panggil ibu dari dapur.
“Iya bu! Ada apa?” sahut Thursina menghampiri ibu.
“Ayo sini, kau bantulah ibu dulu. Kepala desa minta tolong dibuatkan pangupa untuk syukuran telah jadinya jembatan.” perintah ibu sambil tersenyum.
“Wah, baik bu, pangupa apa yang akan kita buat? Pakai ayamkah? Atau kepala kambing? Apakah udang dan telur juga?”
“Tentu saja, ayo nak. Cepat kita masak dan susun.” ajak ibu. Dia mengangguk dan segera membantu.
Setelah semua bahan di masak, saatnya menyusun. Ibu menyusun sambil mengajarkan arti dari setiap bahan-bahannya.
“Pertama, siapkan tampah lalu ditutupi dengan daun pisang. Taruh nasi putih, sampai seluruh tampah terpenuhi. Letakkan kepala kambing di tengah-tengah, kemudian letakkan ikan mas di kanan-kirinya. Lalu, telur rebus diletakkan di depan kepala kambing. Jangan lupa kau siapkan garam yang diwadahi daun pisang. Setelah itu penuhi nasi putih itu dengan rendang, ayam goreng, udang balado, dan daun singkong yang sudah diikat kecil-kecil,” jelas ibu panjang lebar.
“Bu, apakah semua itu ada artinya?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“ Oh, tentu saja sayang! Sini ibu jelaskan,” ibu berkata sambil menunjuk ke arah pangupa yang sudah siap. “Pertama, kepala kambing menggambarkan kekuatan, tapi tidak selalu harus kepala kambing, kalau acara keluarga kita cukup memakai ayam panggang utuh. Tapi sebaliknya, jika kau adakan acara besar dan punya banyak rezeki, kau bisa memotong kerbau dan kepalanya kau gunakan untuk pangupa.”
“Kedua, ikan mas di kanan-kiri melambangkan bahwa selalu ada yang mengiringi kita dalam hidup ini, yaitu keluarga kita. Ketiga, telur. Telur dan garam menunjukkan kepulihan semangat kita, ibaratkan telur itu sebuah benih. Keempat, udang dan daun singkong. Udang yang bentuknya selalu bengkok menyuruh kita untuk selalu rendah hati, kapanpun dan siapa pun kita, sedangkan daun singkong yang diikat melambangkan tali persaudaraan yang selalu erat. Dan lauk-lauk lainnya ada untuk menambah stamina kita.”
            Thursina terdiam. Tapi kemudian dia membuat kesimpulan, “Bagus sekali ya, bu, makna dari semua ini. Kalau saja kita semua memahami dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita akan jadi pribadi yang kuat.”
            “Dan pribadi yang kuat, akan membawa kita pada kesuksesan, kesuksesan itu berawal dari mimpi. Selama kita selalu berpegang teguh pada keyakinan dan berdoa kepada yang Maha Mencipta, tentu bukan tak mungkin suatu saat kau jadi orang besar.” tambah ibu.
“Ibu sangat bersyukur punya anak secerdas kau, nak. Ibu selalu mengiringi setiap langkahmu dengan doa, seperti yang dilambangkan ikan mas. Karena itu jangan takut untuk bermimpi. Kau akan berhasil meraihnya, nak!”
Thursina tersenyum lebar. Ia langsung memeluk ibunya erat, orang yang sangat dicintainya, orang yang selalu ada saat ia membutuhkannya. Dalam hati gadis itu berjanji, suatu saat, ketika dia sudah besar nanti, dia akan merantau ke pulau nun jauh di sana, merantau ke belahan dunia lainnya, jauh… jauh… Menyeberangi samudera luas.
“Bu? ”
“Ya, ada apa nak?” jawab ibu sambil mengelus kepala Thursina.
“Bu, aku janji, aku pasti buat ibu bangga. Nanti, pasti.” gumamnya sambil mengeratkan pelukan. Dia dapat merasakan, getar dada ibunya yang menangis terharu.  
Dan mentari sore itu pun menjadi saksi bisu janji tulus seorang anak pada ibunya.
It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar