Kamis, 12 April 2012

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 3


Thursina menggeliat bangun. Suara Adzan terdengar berkumandang di luar sana. Dia tersenyum, kantuknya langsung hilang setelah ia berwudhu di sumur belakang rumahnya. Di desa yang ia tinggali ini tidak semuanya beragama Islam, banyak dari mereka beragama Kristen, tapi tidak ada masalah dengan acara keagamaan karena budaya toleransi di suku Batak ini sangat terlihat.
Setelah melaksanakan shalat Subuh, Thursina bersiap ke sekolah. Dia kembali mengayuh sepedanya menuju Desa Padang Bolak. Tapi di tengah jalan dia berhenti. Wajahnya menampakkan kekagetan, jembatan gantung yang biasa ia lewati tidak ada, dan sebagai gantinya tampak timbunan besar tanah di depannya. Hanya satu yang ada di pikirannya. Longsor.
Ya, daerah ini memang cukup rawan longsor, apalagi sepertinya tadi malam hujan turun sangat deras. Segeralah gadis itu mencari bantuan ke kantor desa, melaporkan kejadian ini. Para  warga segera berkumpul mengerubungi lokasi jembatan itu.
“Pak, bagaimana ini, saya perlu menyeberang untuk pergi ke sekolah. Tapi dengan kondisi seperti ini…” tanyaku cemas kepada pak kades yang juga datang.
“Duh, susah kali keadaannya ini. Jembatan ini satu-satunya tempat penyeberangan.” jawab pak kades. Beliau juga tampak masih bingung.
Dia termenung. Kalau aku memutar lewat hulu sungai, akan sangat jauh. Tapi kalau aku tidak mengambil resiko itu, aku tidak bisa sekolah, pikir Thursina dalam hati. Akhirnya gadis itu memutuskan memutar. Untuk sampai ke hulu dia harus lewat jalan menanjak yang sempit dan berbatu, dengan keadaan hulu sungai yang tidak lebar, dia dapat menyeberanginya, walau pada akhirnya keringat bercucuran deras dan dia datang terlambat, tapi kegigihan dan kerja kerasnya untuk tetap bersekolah berhasil membuat kepala sekolahnya terharu.
“Baiklah nak, pulang nanti akan bapak temui kepala desa. Mari warga desa kita membangun kembali jembatan itu. Agar kau tak perlu terlampau susah pergi ke sekolah.” ujar kepala sekolah dengan bijak. Beliau bahkan tidak menghukum Thursina walau terlambat.
“Terima kasih pak, saya tak sangka reaksi bapak begini. Saya malah sudah siap untuk dihukum.” Kata Thursina sambil bergurau membuat kepala sekolahnya tergelak.   
It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar