Kamis, 12 April 2012

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 2

Akhirnya dia sampai di rumah. Ia mengikatkan sepeda di sebuah pasak di depan rumah. Rumahnya berbentuk panggung, rumah ini adalah milik kakek-nenek buyutnya, tapi karena dibuat dari kayu yang bagus, rumah ini masih bertahan sampai sekarang. Gadis itu mengetuk pintu rumah. Terdengar suara ibunya membukakan dari dalam.
“Ah, butet. Bagus kali kau ini pulang tepat waktu. Biasanya bermain dulu, mari nak,” ujar ibu sambil menyuruh Thursina masuk. Butet adalah panggilan sayang untuk anak perempuan di Batak.
“Wah, ibu sedang masak ya?” tanyanya riang. “Harum kali baunya. Mari kubantu bu!”
Segeralah gadis itu mengganti bajunya dan membantu. Mereka hanya berdua di sana. Ayahnya sedang bertani di sawah milik tuan tanah dekat situ. Ayahnya buruh yang rajin, dengan penghasilannya yang pas-pas an dan dibantu ibu yang menerima pesanan makanan untuk perayaan-perayaan, mereka berhasil menyekolahkan kedua kakak Thursina sampai lulus perguruan tinggi. Kedua kakaknya sudah merantau ke pulau Jawa, mencoba mandiri dengan mencari penghidupan di luar tanah kelahiran mereka.
Thursina merebus telur sambil menggoreng sepotong ikan sedangkan ibunya menanak nasi. Ya, makanan sederhana seperti inilah yang biasa dimakannya. Mereka tidak bisa bermewah-mewah karena gaji ayahnya yang tidak banyak. Tapi walau begitu, Thursina sangat mencintai keluarganya. Tidak peduli berapa uang yang ada di saku ayahnya.
Hari beranjak sore. Gadis itu tampak bosan di rumah. Ia pun meminta izin pada ibunya untuk bermain ke bukit sana. Ia membawa gitar kesayangannya bersama. Setelah pamit, dia pun mengambil sepedanya dan mengayuh. Thursina mengayuh lebih kuat lagi karena jalan semakin menanjak.
Tak lama kemudian dia berhenti. Menggiring sepedanya dan menyandarkannya di bawah pohon rindang. Gadis itu bersandar kelelahan, napas dan dadanya naik turun tidak teratur. Tapi dia tersenyum gembira. Tampak di bawahnya hamparan sawah hijau yang luas. Semilir angin berhembus menerbangkan rambutnya. Awan-awan beriak di atas sana, di langit biru yang luas, tampak tenang dan damai.
Ia mengeluarkan gitarnya dari tas dan mulai memetik. Satu persatu nada menjalin jadi melodi, Thursina mulai bernyanyi lembut. Irama sendu mengiringi setiap tarikan napasnya. Musik alam dan kicauan burung mengiringi lagu yang dia nyanyikan. Bergabung dalam kolaborasi yang luar biasa, seakan mereka berada dalam satu orkestra yang menyenandungkan berbagai nada. Lembut tapi tegas, itulah lagu yang dibawakannya.
Semakin lama, langit berangsur-angsur berubah oranye. Matahari tampak bersembunyi di ujung sana. Panorama alam yang terbentang di hadapannya sungguh luar biasa. Lukisan alam yang menakjubkan, membuat Thursina ternganga kagum. Bukit ini memang tempat favoritnya, tapi pemandangan sore ini benar-benar lain dan berhasil membuatnya tersentuh.
 It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar