Jumat, 13 April 2012

Karya - Karya Pelajaran SBK

Kiri : Topeng, gucci, cangkir

Batik
Kiri : Jeruk sunkist, mangga, pisang, kelengkeng, mawar


Tempat pensil anyaman
Alat (gambar 1 dan 3) : Pensil 2B, 3B, 4B, 5B, 6B, 7B, 8B
Alat (gambar 2) : Cat acrylic, Cat poster emas
Alat (gambar 4) : Kertas buffalo, tisu, cat acrylic

The Most Historical Ship

RMS Titanic was a British passenger liner that sank in the North Atlantic Ocean on 15 April 1912 after colliding with an iceberg during its maiden voyage from Southampton, England to New York City. The sinking of Titanic caused the deaths of 1,514 people in one of the deadliest peacetime maritime disasters in history. It was the largest ship afloat at the time of its maiden voyage. One of three Olympic class ocean liners operated by the White Star Line, it was built between 1909–11 by the Harland and Wolff shipyard in Belfast. It carried 2,223 people.
RMS Titanic departing Southampton on 10 April 1912
Its passengers included some of the wealthiest people in the world, as well as over a thousand emigrants from Great Britain and Ireland, Scandinavia and elsewhere seeking a new life in North America. The ship was designed to be the last word in comfort and luxury, with an on-board gymnasium, swimming pool, libraries, high-class restaurants and opulent cabins. It also had a powerful wireless telegraph provided for the convenience of passengers as well as for operational use. Though it had advanced safety features such as watertight compartments and remotely activated watertight doors, it lacked enough lifeboats to accommodate all of those aboard. Due to outdated maritime safety regulations, it carried only enough lifeboats for 1,178 people – a third of its total passenger and crew capacity.
After leaving Southampton on 10 April 1912, Titanic called at Cherbourg in France and Queenstown (now Cobh) in Ireland before heading westwards towards New York. On 14 April 1912, four days into the crossing and about 375 miles (600 km) south of Newfoundland, it hit an iceberg at 11:40 pm (ship's time; GMT−3). The glancing collision caused Titanic's hull plates to buckle inwards in a number of locations on its starboard side and opened five of its sixteen watertight compartments to the sea. Over the next two and a half hours, the ship gradually filled with water and sank. Passengers and some crew members were evacuated in lifeboats, many of which were launched only partly filled. A disproportionate number of men – over 90% of those in Second Class – were left aboard due to a "women and children first" protocol followed by the officers loading the lifeboats. Just before 2:20 am Titanic broke up and sank bow-first with over a thousand people still on board. Those in the water died within minutes from hypothermia caused by immersion in the freezing ocean. The 710 survivors were taken aboard from the lifeboats by the RMS Carpathia a few hours later.
The disaster was greeted with worldwide shock and outrage at the huge loss of life and the regulatory and operational failures that had led to it. Public inquiries in Britain and the United States led to major improvements in maritime safety. One of their most important legacies was the establishment in 1914 of the International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS), which still governs maritime safety today. Many of the survivors lost all of their money and possessions and were left destitute; many families, particularly those of crew members from Southampton, lost their primary bread-winners. They were helped by an outpouring of public sympathy and charitable donations. Some of the male survivors, notably the White Star Line's chairman, J. Bruce Ismay, were accused of cowardice for leaving the ship while people were still on board, and they faced social ostracism.
The wreck of the Titanic remains on the seabed, gradually disintegrating at a depth of 12,415 feet (3,784 m). Since its rediscovery in 1985, thousands of artefacts have been recovered from the sea bed and put on display at museums around the world. Titanic has become one of the most famous ships in history, its memory kept alive by numerous books, films, exhibits and memorials.

Kamis, 12 April 2012

Christina Grimmie Singing 'My Heart Will Go On'

No, I can't say anything. I'm shocked. It's really awesome!!! You're adorable Grimmie! Love ya. I really love My Heart Will Go On and Grimmie sang it! It's really unexpected, big much love Grimmie!! {}

Celine Dion - A New Day Has Come

What a very soft song! Deep meaning, soft melodies, beautiful voice, Celine Dion did! <3 
This is the lyrics!

A new day
A new day

I was waiting for so long
For a miracle to come
Everyone told me to be strong
Hold on and don't shed a tear

Through the darkness and good times
I knew I'd make it through
And the world thought I had it all
But I was waiting for you

Hush now
I see a light in the sky
Oh, it's almost blinding me
I can't believe
I've been touched by an angel with love

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun

A new day has come
Where it was dark now there's light
Where there was pain now there's joy
Where there was weakness, I found my strength
All in the eyes of a boy

Hush now
I see a light in the sky
Oh, it's almost blinding me
I can't believe
I've been touched by an angel with love

Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun

A new day has
Let the rain come down and wash away my tears
Let it fill my soul and drown my fears
Let it shatter the walls for a new, new sun

A new day has come
Ohhh, a light
Hush now
I see a light in your eyes
All in the eyes of the boy

I can't believe
I've been touched by an angel with love

I can't believe
I've been touched by an angel with love

Hush now
Hush now

Taken from here (/^o^)/

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 5


Ibu Thursina tergopoh-gopoh membawa pangupa-nya ke balai desa. Matahari tampak sangat cerah seakan ikut ber-euforia telah jadinya jembatan desa. Acara diawali dengan makobar. Makobar adalah istilah untuk duduk bersama dan saling memberi nasihat. Makobar kali ini diawali oleh Pak Kades.
“Segala puji bagi Tuhan yang telah merestui kehandiran kita semua di sini, dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Saya bersyukur akan jadinya jembatan permanen yang tentunya akan membuka desa ini lebih, kepada publik..”
Petuahnya diungkapkan selama lebih dari lima menit, sebelum dilanjut oleh orang-orang penting di desa dengan nasihat bernada serupa. Akhirnya sampailah pada acara pembukaan. Penari tor-tor menghibur para warga, Thursina pun turut menyumbangkan suara emasnya. Gelak tawa memenuhi udara, atmosfer ceria terasa dimana-mana. Semua menari bersama. Acara ini selain untuk syukuran juga untuk mempererat tali kekeluargaan, dan bagi yang belum saling kenal, acara ini menjadi tali penghubung yang penting.
***
Dia duduk di depan rumahnya. Seorang ibu tua tampak kesepian menatap langit. Suaminya masih bekerja di sawah. Walau sudah berusia senja, namun suaminya masih semangat bekerja, demi dirinya, istri tercinta. Ketiga anak mereka sudah merantau jauh ke sana. Walau dalam adat batak harus ada seorang anak yang menemani, tapi mereka membiarkan anak-anaknya bebas, tidak ingin membebani.
Lewatlah seorang pria dengan kendaraannya, membawa paket kiriman.
“Paket!” seru pria itu. Dia turun dan menghampiri sang ibu tua, “Bu, ada kiriman untuk ibu. Tolong tanda tangani ini, ini, dan ini.”
Wanita tua itu melakukan apa yang disuruh  dan ketika pria itu sudah meninggalkannya, dia membuka amplop coklat besar tersebut. Ia mendapati lima buah eksemplar koran dikirimkan kepadanya bersama sebuah surat. Ia tidak dapat membacanya, sepertinya koran itu diterbitkan dalam bahasa asing. Dia melihat salah satu nama koran tersebut ‘New York Times’.
Apa itu? pikirnya. Tapi penasarannya langsung sirna dan rasa rindu datang menyerbu. Foto seorang perempuan yang membawa sebuah gitar tradisional, senyum yang tidak asing. Thursina
            Lalu beliau menyadari, ada salah satu dari koran-koran yang diterimanya berbahasa Indonesia. Dengan keadaan mata yang sudah rabun dia berusaha membacanya.
Thursina Nauli Harahap, 23 tahun, berhasil mendapat penghargaan dalam nominasi penyanyi tradisional terbaik dalam sebuah ajang budaya bergengsi di New York, Amerika Serikat. Gadis asal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara ini mengaku dalam sebuah wawancara, ‘Semua tak akan bisa terjadi tanpa izin Allah dan tanpa dukungan keluarga saya. Terutama ibu saya, saya sangat mencintainya, dia pahlawan paling berarti dalam hidup saya’. Thursina juga berkata bahwa dia akan segera pulang ke kampungnya dalam waktu dekat.
Titik-titik air mata terjatuh. Berjuta rasa syukur ia tunjukkan pada yang Maha Kuasa di atas sana. Anaknya berhasil, sukses, seperti apa yang pernah ia janjikan.
***
 END
Nurul Afifah Harahap
  


Kala Budaya Menggapai Asa - Part 4


Perlu waktu dua minggu untuk kembali membangun jembatan. Seluruh warga desa bergotong royong membangunnya, dengan dana pemerintah daerah, mereka membangun jembatan permanen yang cukup lebar. Tidak lagi jembatan gantung seperti dulu. Tujuannya agar lebih kuat sekaligus untuk membuka desa.
Dan setelah jembatan itu jadi, diadakan syukuran di balai desa. Sebelumnya kepala desa sudah memesan sebuah pangupa kepada ibu.
“Tet, buteeet?” panggil ibu dari dapur.
“Iya bu! Ada apa?” sahut Thursina menghampiri ibu.
“Ayo sini, kau bantulah ibu dulu. Kepala desa minta tolong dibuatkan pangupa untuk syukuran telah jadinya jembatan.” perintah ibu sambil tersenyum.
“Wah, baik bu, pangupa apa yang akan kita buat? Pakai ayamkah? Atau kepala kambing? Apakah udang dan telur juga?”
“Tentu saja, ayo nak. Cepat kita masak dan susun.” ajak ibu. Dia mengangguk dan segera membantu.
Setelah semua bahan di masak, saatnya menyusun. Ibu menyusun sambil mengajarkan arti dari setiap bahan-bahannya.
“Pertama, siapkan tampah lalu ditutupi dengan daun pisang. Taruh nasi putih, sampai seluruh tampah terpenuhi. Letakkan kepala kambing di tengah-tengah, kemudian letakkan ikan mas di kanan-kirinya. Lalu, telur rebus diletakkan di depan kepala kambing. Jangan lupa kau siapkan garam yang diwadahi daun pisang. Setelah itu penuhi nasi putih itu dengan rendang, ayam goreng, udang balado, dan daun singkong yang sudah diikat kecil-kecil,” jelas ibu panjang lebar.
“Bu, apakah semua itu ada artinya?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
“ Oh, tentu saja sayang! Sini ibu jelaskan,” ibu berkata sambil menunjuk ke arah pangupa yang sudah siap. “Pertama, kepala kambing menggambarkan kekuatan, tapi tidak selalu harus kepala kambing, kalau acara keluarga kita cukup memakai ayam panggang utuh. Tapi sebaliknya, jika kau adakan acara besar dan punya banyak rezeki, kau bisa memotong kerbau dan kepalanya kau gunakan untuk pangupa.”
“Kedua, ikan mas di kanan-kiri melambangkan bahwa selalu ada yang mengiringi kita dalam hidup ini, yaitu keluarga kita. Ketiga, telur. Telur dan garam menunjukkan kepulihan semangat kita, ibaratkan telur itu sebuah benih. Keempat, udang dan daun singkong. Udang yang bentuknya selalu bengkok menyuruh kita untuk selalu rendah hati, kapanpun dan siapa pun kita, sedangkan daun singkong yang diikat melambangkan tali persaudaraan yang selalu erat. Dan lauk-lauk lainnya ada untuk menambah stamina kita.”
            Thursina terdiam. Tapi kemudian dia membuat kesimpulan, “Bagus sekali ya, bu, makna dari semua ini. Kalau saja kita semua memahami dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita akan jadi pribadi yang kuat.”
            “Dan pribadi yang kuat, akan membawa kita pada kesuksesan, kesuksesan itu berawal dari mimpi. Selama kita selalu berpegang teguh pada keyakinan dan berdoa kepada yang Maha Mencipta, tentu bukan tak mungkin suatu saat kau jadi orang besar.” tambah ibu.
“Ibu sangat bersyukur punya anak secerdas kau, nak. Ibu selalu mengiringi setiap langkahmu dengan doa, seperti yang dilambangkan ikan mas. Karena itu jangan takut untuk bermimpi. Kau akan berhasil meraihnya, nak!”
Thursina tersenyum lebar. Ia langsung memeluk ibunya erat, orang yang sangat dicintainya, orang yang selalu ada saat ia membutuhkannya. Dalam hati gadis itu berjanji, suatu saat, ketika dia sudah besar nanti, dia akan merantau ke pulau nun jauh di sana, merantau ke belahan dunia lainnya, jauh… jauh… Menyeberangi samudera luas.
“Bu? ”
“Ya, ada apa nak?” jawab ibu sambil mengelus kepala Thursina.
“Bu, aku janji, aku pasti buat ibu bangga. Nanti, pasti.” gumamnya sambil mengeratkan pelukan. Dia dapat merasakan, getar dada ibunya yang menangis terharu.  
Dan mentari sore itu pun menjadi saksi bisu janji tulus seorang anak pada ibunya.
It isn't finished yet

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 3


Thursina menggeliat bangun. Suara Adzan terdengar berkumandang di luar sana. Dia tersenyum, kantuknya langsung hilang setelah ia berwudhu di sumur belakang rumahnya. Di desa yang ia tinggali ini tidak semuanya beragama Islam, banyak dari mereka beragama Kristen, tapi tidak ada masalah dengan acara keagamaan karena budaya toleransi di suku Batak ini sangat terlihat.
Setelah melaksanakan shalat Subuh, Thursina bersiap ke sekolah. Dia kembali mengayuh sepedanya menuju Desa Padang Bolak. Tapi di tengah jalan dia berhenti. Wajahnya menampakkan kekagetan, jembatan gantung yang biasa ia lewati tidak ada, dan sebagai gantinya tampak timbunan besar tanah di depannya. Hanya satu yang ada di pikirannya. Longsor.
Ya, daerah ini memang cukup rawan longsor, apalagi sepertinya tadi malam hujan turun sangat deras. Segeralah gadis itu mencari bantuan ke kantor desa, melaporkan kejadian ini. Para  warga segera berkumpul mengerubungi lokasi jembatan itu.
“Pak, bagaimana ini, saya perlu menyeberang untuk pergi ke sekolah. Tapi dengan kondisi seperti ini…” tanyaku cemas kepada pak kades yang juga datang.
“Duh, susah kali keadaannya ini. Jembatan ini satu-satunya tempat penyeberangan.” jawab pak kades. Beliau juga tampak masih bingung.
Dia termenung. Kalau aku memutar lewat hulu sungai, akan sangat jauh. Tapi kalau aku tidak mengambil resiko itu, aku tidak bisa sekolah, pikir Thursina dalam hati. Akhirnya gadis itu memutuskan memutar. Untuk sampai ke hulu dia harus lewat jalan menanjak yang sempit dan berbatu, dengan keadaan hulu sungai yang tidak lebar, dia dapat menyeberanginya, walau pada akhirnya keringat bercucuran deras dan dia datang terlambat, tapi kegigihan dan kerja kerasnya untuk tetap bersekolah berhasil membuat kepala sekolahnya terharu.
“Baiklah nak, pulang nanti akan bapak temui kepala desa. Mari warga desa kita membangun kembali jembatan itu. Agar kau tak perlu terlampau susah pergi ke sekolah.” ujar kepala sekolah dengan bijak. Beliau bahkan tidak menghukum Thursina walau terlambat.
“Terima kasih pak, saya tak sangka reaksi bapak begini. Saya malah sudah siap untuk dihukum.” Kata Thursina sambil bergurau membuat kepala sekolahnya tergelak.   
It isn't finished yet

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 2

Akhirnya dia sampai di rumah. Ia mengikatkan sepeda di sebuah pasak di depan rumah. Rumahnya berbentuk panggung, rumah ini adalah milik kakek-nenek buyutnya, tapi karena dibuat dari kayu yang bagus, rumah ini masih bertahan sampai sekarang. Gadis itu mengetuk pintu rumah. Terdengar suara ibunya membukakan dari dalam.
“Ah, butet. Bagus kali kau ini pulang tepat waktu. Biasanya bermain dulu, mari nak,” ujar ibu sambil menyuruh Thursina masuk. Butet adalah panggilan sayang untuk anak perempuan di Batak.
“Wah, ibu sedang masak ya?” tanyanya riang. “Harum kali baunya. Mari kubantu bu!”
Segeralah gadis itu mengganti bajunya dan membantu. Mereka hanya berdua di sana. Ayahnya sedang bertani di sawah milik tuan tanah dekat situ. Ayahnya buruh yang rajin, dengan penghasilannya yang pas-pas an dan dibantu ibu yang menerima pesanan makanan untuk perayaan-perayaan, mereka berhasil menyekolahkan kedua kakak Thursina sampai lulus perguruan tinggi. Kedua kakaknya sudah merantau ke pulau Jawa, mencoba mandiri dengan mencari penghidupan di luar tanah kelahiran mereka.
Thursina merebus telur sambil menggoreng sepotong ikan sedangkan ibunya menanak nasi. Ya, makanan sederhana seperti inilah yang biasa dimakannya. Mereka tidak bisa bermewah-mewah karena gaji ayahnya yang tidak banyak. Tapi walau begitu, Thursina sangat mencintai keluarganya. Tidak peduli berapa uang yang ada di saku ayahnya.
Hari beranjak sore. Gadis itu tampak bosan di rumah. Ia pun meminta izin pada ibunya untuk bermain ke bukit sana. Ia membawa gitar kesayangannya bersama. Setelah pamit, dia pun mengambil sepedanya dan mengayuh. Thursina mengayuh lebih kuat lagi karena jalan semakin menanjak.
Tak lama kemudian dia berhenti. Menggiring sepedanya dan menyandarkannya di bawah pohon rindang. Gadis itu bersandar kelelahan, napas dan dadanya naik turun tidak teratur. Tapi dia tersenyum gembira. Tampak di bawahnya hamparan sawah hijau yang luas. Semilir angin berhembus menerbangkan rambutnya. Awan-awan beriak di atas sana, di langit biru yang luas, tampak tenang dan damai.
Ia mengeluarkan gitarnya dari tas dan mulai memetik. Satu persatu nada menjalin jadi melodi, Thursina mulai bernyanyi lembut. Irama sendu mengiringi setiap tarikan napasnya. Musik alam dan kicauan burung mengiringi lagu yang dia nyanyikan. Bergabung dalam kolaborasi yang luar biasa, seakan mereka berada dalam satu orkestra yang menyenandungkan berbagai nada. Lembut tapi tegas, itulah lagu yang dibawakannya.
Semakin lama, langit berangsur-angsur berubah oranye. Matahari tampak bersembunyi di ujung sana. Panorama alam yang terbentang di hadapannya sungguh luar biasa. Lukisan alam yang menakjubkan, membuat Thursina ternganga kagum. Bukit ini memang tempat favoritnya, tapi pemandangan sore ini benar-benar lain dan berhasil membuatnya tersentuh.
 It isn't finished yet

Kala Budaya Menggapai Asa - Part 1

Oke, ini cerpen yang dibuat untuk lomba FLS2N dari Diknas, tapi sayangnya gak lolos ke tingkat selanjutnya :'| That's very hurt
       ***
Keringatnya mengalir di pelipis, napasnya sedikit terengah-engah. Kaos putihnya sudah lembab akibat keringat, tapi wajahnya berseri-seri penuh semangat. Gadis itu tetap mengayuh sepeda tuanya yang terlihat berkarat di beberapa tempat dengan mantap. Dia mengenakan rok berwarna biru tua dan menggendong sebuah tas berisi buku-buku yang sudah melesak di bagian bawahnya
            Fajar baru saja menyingsing di Timur sana. Tampak mentari masih enggan bangun dan udara dingin masih terasa menusuk tulang. Dimana biasanya orang-orang masih terlelap pulas. Tapi tidak dengan dia, mengayuh sepedanya melintasi pematang sawah, melangkah menuju sekolahnya dengan pasti.
            Namanya Thursina Nauli Harahap, dia tinggal di Desa Gunung Tua Jaya. Dia duduk di kelas 1 SMPN 12, setiap hari dia menuruni bukit dengan sepeda tua milik ayahnya, melewati persawahan dan menyeberangi jembatan gantung untuk pergi ke Desa Padang Bolak, tempat dimana dia bersekolah setiap hari.
            Butuh 25 menit untuk sampai di sekolahnya dengan sepeda, karena itu dia biasa berangkat saat langit pagi belum merekah, lebih pagi dari teman-temannya. Sekitar pukul enam pagi dia sampai di sekolah, dia sandarkan sepeda tuanya di pohon rindang di dalam halaman. Untuk berjaga, dia mengikat sepedanya dengan tali ke pohon.
            Waktu selalu terasa cepat di sekolah, karena Thursina sangat menikmati kegiatan belajarnya. Sekolah selesai pukul dua belas. Matahari bersinar terang di atas kepala, tapi walau begitu udara tetap terasa sejuk karena desa itu terletak di dataran tinggi. Sambil mengayuh, gadis mungil itu bernyanyi.
Senandung merdu keluar dari mulutnya, paduan nada-nada indah dan siulan burung, menjadi satu dan menghasilkan melodi baru yang menentramkan. Ya, menyanyi adalah salah satu keahliannya, biasanya dia mengiringi dengan gitar tradisional, bernyanyi di atas bukit dekat rumahnya.
 Dia hidup di lingkungan dengan adat Batak yang masih cukup kental, hanya saja mayoritas penduduk Desa Gunung Tua Jaya beragama Islam walau kebanyakan nenek moyang mereka menganut kepercayaan Animisme.

It isn't finished yet