Jumat, 17 Februari 2012

In My Loneliness - Part 2

Tok. Tok. Aku tersadar dari lamunanku. Aku berpaling ke arah pintu, satu, dua, tiga, aku menghitung.. Ada tiga siluet terlihat, masih dengan rasa penasaran aku kembali ke tempat tidur dan menarik selimut hingga ke dada.  Tangan itu, yang merah dan sakit.. Aku sembunyikan rapat-rapat.
Ketiga tamu itu pun masuk, suster, bersama seorang pria bersetelan rapi, jas hitam dan kemeja putih dengan dasi berwarna abu-abu. Berjalan di sampingnya, seorang wanita muda berambut coklat, dia memakai dress ungu dengan bunga mawar terjahit rapi di bagian dadanya, sungguh elegan gayanya memadukan busana dengan heels dan tas tangan berwarna senada.

"Bounjour," pria itu menyapa. Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, "Moreau, Austen."

Aku hanya menatapnya dan mengangguk, tidak membalas uluran tangannya, "Dupont, Annelise." jawabku pelan.

"Such a beautiful name, may I call you Annelise?" ujarnya menggunakan bahasa inggris. Aku hanya mengangguk. "Baiklah, kita sudah saling mengenal, dan mari kita berlanjut ke pokok masalah.. Annelise, bagaimana perasaanmu saat ini?" 

Aku menggeleng, "Tidak baik,"

"Bisa saya pahami.. Begini, mungkin kita belum pernah bertemu karena saya lama tinggal di Inggris, tapi istri saya, Aimee merupakan adik kandung dari ayahmu, sudahkah ibumu menceritakan tentang dia? Em, maksud saya sebelum dia... Sebelum..."

"........ Meninggal. Tidak dia belum pernah menceritakannya pada saya," jawabku, melanjutkan perkataannya yang tidak selesai. Pria itu tercenung.

"Yah.. Memang, hubungan kami dengannya, tidak begitu.... Baik. Dia tidak begitu suka dengan saya yang seolah mengambil adiknya, yah.. Mereka memang dekat sekali." katanya. "Tapi itu tak penting sekarang, kami bermaksud datang kemari untuk menanyakan, setelah ini, dengan siapa kamu akan tinggal? Apa kamu akan melanjutkan sekolah?"

"Saya tak tahu, mungkin saya akan tinggal di panti asuhan dan melanjutkan sekolah." 

"Saya, datang kemari untuk menanyakan, barangkali kalau kamu ingin tinggal bersama kami, karena 5 tahun pernikahan kami belum juga dikaruniani anak," dia mengutarakan maksudnya. 

Aku tercengang, tinggal bersama orang yang baru dikenal? Sekalipun dia kerabat papa? 

Tapi dia melanjutkan, dengan sedikit cemas, "Tapi, tidak perlu dijawab sekarang. Kamu bisa memikirkan dan memepertimbangkan terlebih dahulu, tapi ketika kamu telah mengambil keputusan, kamu bisa menghubungi nomer ini." dia menyodorkan sebuah kartu nama dengan sederet nomor dan alamat e-mail tercantum dibawahnya.

"Terima kasih, saya menghargainya." jawabku pelan.

"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu jawabanmu, sekarang kami pamit dulu.. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu yang berharga." ujar pria itu sambil kembali mengulurkan tangan, yang kali ini, aku balas dengan senyum kecil. Dan wanita itu, memberikan senyum simpul yang sangat manis. Mengingatkanku pada sosok yang selalu ada untukku selama 11 tahun terakhir. Setelah itu mereka pun pergi.

Dan pintu putih itu menutup pelan..

It isn't finished yet   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar