Sabtu, 11 Februari 2012

In My Loneliness - Part 1

Itu hanya sebuah malam biasa, atau lebih tepatnya seharusnya menjadi sebuah malam biasa. Tapi berubah menjadi luar biasa ketika api panas memercik dan menyulut rumah kami. Dengan cepat dan pasti api itu menyambar ke seluruh tempat, kami terlambat untuk sadar. Terlambat mengetahui ada yang janggal dengan kehangatan udara ketika itu. Api sudah memenuhi ruang tengah dan kami masih berada di dalam.
Papa mengangkatku tinggi-tinggi dan mengeluarkanku lewat ventilasi. Aku digendong oleh pemadam kebakaran dan diamankan. Aku….. Selamat. Tapi tidak dengan mama, papa, dan kakak. Mereka terlambat. Api berkobar besar dan mereka sudah menghirup terlalu banyak asap. Mereka ditemukan dalam keadaan mengenaskan, sulit untuk dikenali dan terbakar. Itulah terakhir kali di mana aku bisa mengingatnya, karena setelah itu aku pingsan dan dilarikan ke rumah sakit karena luka bakar yang cukup parah.
Aku hanya anak-anak. Aku tidak pernah berpikir terlalu dalam. Aku tidak pernah memikirkan kesendirian. Aku selalu berada di tengah lingkaran, dikelilingi oleh banyak orang. Tapi kini aku berada di pinggiran, sendiri, dan kesepian. Aku hanya ingin kehangatan, tapi yang aku dapatkan adalah dingin yang mencekam. Udara hangat di luar sana tidak mencairkan perasaan beku di dada. Aku merasa…… Kosong. Seperti ketika ada satu bagian dari puzzle kita yang hilang, kita tidak dapat mengenali gambarnya. Begitulah aku sekarang, Ada sesuatu yang hilang, bagian yang terpenting.
“Itu ya, anak yang selamat dari kebakaran besar..” seseorang berbicara, mungkin suster.
“Ya, Mengerikan sekali. Seluruh keluarganya tewas secara tragis, tentu saja dia shock,” sahut suster yang lain.
Aku menguping dari dalam selimut, aku mendengarnya.. Jelas, dan menyakitkan.
“Adakah sanaknya yang datang? Sudah hampir seminggu kan? Tidak baik untuk jiwanya kalau terlalu lama sendiri,”
Aku mencengkram, erat. Kakiku mulai gemetar.
“Sepertinya tidak, dia benar-benar sendiri sekarang. Di mana dia akan tinggal nanti? Kasihan benar.”
“Ya, malang sekali………….”
Tolong… Enyahlah, aku tidak mau dengar, jangan sebut kata ‘sendiri’ di hadapanku.. Jangan kasihani aku, pergi……
Aku mendengar langkah mereka menjauh. Aku keluar dari selimut, memandang ke jendela dan mengamati dunia luar. Matahari sudah berada di atas kepala, orang-orang tampak terlihat senang dan bersemangat. Bahkan beberapa di antara mereka berlari-lari kecil. Aku terus memandang dengan perasaan iri, dengan tatapang kosong yang menerawang. Begitu banyak orang di luar sana, tapi aku di sini, sendiri. Ya, sungguh ironis, mereka di luar sana begitu bahagia, mereka masih punya keluarga untuk saling berkumpul. Dan yang aku punya sekarang hanyalah sebuah boneka beruang dari nenek di ruang sebelah yang sedang sakit Typhus.
Berkali-kali aku menghela napas, air sudah berkumpul di pelupuk mata. Mataku mengarah pada tangan kananku, merah dan terasa sakit. Aku melihat ke arah kaca dan mendapati leherku juga sama keadaannya. Luka bakar ini akan merubah kehidupanku, sedikit demi sedikit untuk perubahan banyak. Yang lebih banyak dari yang aku mungkin menduga.


It isn't finished yet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar