Selasa, 21 Februari 2012

Tuesday, 21. 02. 2012

Hari ini, hari Selasa 21 Februari 2012. Hari ini ada 2 pelajaran kosong, yaitu pelajaran Olahraga bersama Pak Sudi (pergi ke Alpus) dan Bahasa Inggris bersama Pak Fermanto (sakit liver | pray for him O:)
Saat pelajaran Olahraga aku dan Tasya pergi ke perpustakaan, di sana aku baca buku 'Aviredie' karya Kak Alline. Aku pergi ke perpustakaan karena di kelas nggak ada kerjaan. Dan juga karena Tasya yang minta.

Waktu istirahat ke 2 Myra nyetel lagu 'Stereo Hearts' dan dikerasin pakai mike :D thanks Myra!!

Pelajaran Bahasa Inggris aku dan Tasya bikin komik dari lagu 'All I Want For Christmas is You' - nya Justin Bieber. Yang jelas, gambarnya lawak karena Justin kita gambarkan dengan muka aneh bulet mirip ayam.

Ya, udah segitu aja karena memang lagi nggak ada cerita. Lain kali kalau 7B seru-seruan lagi kayak hari apaaa gitu, InsyaAllah pasti cerita!

Me

Rest In Peace Grandma :"

She's smiling at the end of her life :')

This is her place



Her tomb is decorated with beautiful

With our neighbor

18. 02. 2012 - 06.00 AM

Me and my brother

Jumat, 17 Februari 2012

In My Loneliness - Part 2

Tok. Tok. Aku tersadar dari lamunanku. Aku berpaling ke arah pintu, satu, dua, tiga, aku menghitung.. Ada tiga siluet terlihat, masih dengan rasa penasaran aku kembali ke tempat tidur dan menarik selimut hingga ke dada.  Tangan itu, yang merah dan sakit.. Aku sembunyikan rapat-rapat.
Ketiga tamu itu pun masuk, suster, bersama seorang pria bersetelan rapi, jas hitam dan kemeja putih dengan dasi berwarna abu-abu. Berjalan di sampingnya, seorang wanita muda berambut coklat, dia memakai dress ungu dengan bunga mawar terjahit rapi di bagian dadanya, sungguh elegan gayanya memadukan busana dengan heels dan tas tangan berwarna senada.

"Bounjour," pria itu menyapa. Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, "Moreau, Austen."

Aku hanya menatapnya dan mengangguk, tidak membalas uluran tangannya, "Dupont, Annelise." jawabku pelan.

"Such a beautiful name, may I call you Annelise?" ujarnya menggunakan bahasa inggris. Aku hanya mengangguk. "Baiklah, kita sudah saling mengenal, dan mari kita berlanjut ke pokok masalah.. Annelise, bagaimana perasaanmu saat ini?" 

Aku menggeleng, "Tidak baik,"

"Bisa saya pahami.. Begini, mungkin kita belum pernah bertemu karena saya lama tinggal di Inggris, tapi istri saya, Aimee merupakan adik kandung dari ayahmu, sudahkah ibumu menceritakan tentang dia? Em, maksud saya sebelum dia... Sebelum..."

"........ Meninggal. Tidak dia belum pernah menceritakannya pada saya," jawabku, melanjutkan perkataannya yang tidak selesai. Pria itu tercenung.

"Yah.. Memang, hubungan kami dengannya, tidak begitu.... Baik. Dia tidak begitu suka dengan saya yang seolah mengambil adiknya, yah.. Mereka memang dekat sekali." katanya. "Tapi itu tak penting sekarang, kami bermaksud datang kemari untuk menanyakan, setelah ini, dengan siapa kamu akan tinggal? Apa kamu akan melanjutkan sekolah?"

"Saya tak tahu, mungkin saya akan tinggal di panti asuhan dan melanjutkan sekolah." 

"Saya, datang kemari untuk menanyakan, barangkali kalau kamu ingin tinggal bersama kami, karena 5 tahun pernikahan kami belum juga dikaruniani anak," dia mengutarakan maksudnya. 

Aku tercengang, tinggal bersama orang yang baru dikenal? Sekalipun dia kerabat papa? 

Tapi dia melanjutkan, dengan sedikit cemas, "Tapi, tidak perlu dijawab sekarang. Kamu bisa memikirkan dan memepertimbangkan terlebih dahulu, tapi ketika kamu telah mengambil keputusan, kamu bisa menghubungi nomer ini." dia menyodorkan sebuah kartu nama dengan sederet nomor dan alamat e-mail tercantum dibawahnya.

"Terima kasih, saya menghargainya." jawabku pelan.

"Baiklah kalau begitu, kami akan menunggu jawabanmu, sekarang kami pamit dulu.. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu yang berharga." ujar pria itu sambil kembali mengulurkan tangan, yang kali ini, aku balas dengan senyum kecil. Dan wanita itu, memberikan senyum simpul yang sangat manis. Mengingatkanku pada sosok yang selalu ada untukku selama 11 tahun terakhir. Setelah itu mereka pun pergi.

Dan pintu putih itu menutup pelan..

It isn't finished yet   



Sabtu, 11 Februari 2012

Technology Era

This is technology era! Something felt weird without.... SOCIAL NETWORK!
Ada banyak jejaring sosial zaman sekarang, tapi yang paling populer sudah jelas, Twitter dan Facebook! Saya punya keduanya, saya juga punya My Space, Friendster, Tumblr, tapi hampir semuanya terbengkalai hehehe.. Kecuali Tumblr, saya masih sering buka, tapi jarang mem-post.

Jadi, ini semua milik saya :
Twitter
Facebook
Tumblr

Untuk jejaring sosial yang lain, nggak ya.. Saya malu, soalnya nggak pernah dibuka sejak kelas 5 SD :$


Carrie Underwood - There's A Place For Us

I love this song so much, I don't know why but it have a big meaning for me :') I need a place in my life but sometimes I didn't get it.. And this is the right song if we felt uncomfortable with ourself. This is the lyrics :

There’s a place out there for us,
More than just a prayer or anything you've ever dreamed of.
So if you feel like giving up cause you don’t fit in
down here,
Fear is crashing in, close your eyes and take my hand.

We can be the kings and queens of anything if we
believe.
It’s written in the stars that shine above,
A world where you and I belong, where faith and love
will keep us strong,
Exactly who we are is just enough

There’s a place for us
There’s a place for us.

When the water meets the sky,
Where your heart is free and hope comes back to life,
When these broken hands are whole again,
We will find what we’ve been waiting for,
We were made for so much more

We can be the kings and queens of anything if we believe.
It’s written in the stars that shine above,
A world where you and I belong, where faith and love
will keep us strong,
Exactly who we are is just enough,

There’s a place for us
There’s a place for us

So hold on, hold on
There’s a place for us
We can be the kings and queens of anything if we believe.
It’s written in the stars that shine above, a world where you and I
belong, where faith and love keep us strong, yeah exactly who we
are is just enough, there's a place for us.
A world where you and I belong, where faith and love
will keep us strong,
Exactly who we are is just enough

Exactly who we are is just enough
There’s a place for us.


Taken from here (/^o^)/ 

In My Loneliness - Part 1

Itu hanya sebuah malam biasa, atau lebih tepatnya seharusnya menjadi sebuah malam biasa. Tapi berubah menjadi luar biasa ketika api panas memercik dan menyulut rumah kami. Dengan cepat dan pasti api itu menyambar ke seluruh tempat, kami terlambat untuk sadar. Terlambat mengetahui ada yang janggal dengan kehangatan udara ketika itu. Api sudah memenuhi ruang tengah dan kami masih berada di dalam.
Papa mengangkatku tinggi-tinggi dan mengeluarkanku lewat ventilasi. Aku digendong oleh pemadam kebakaran dan diamankan. Aku….. Selamat. Tapi tidak dengan mama, papa, dan kakak. Mereka terlambat. Api berkobar besar dan mereka sudah menghirup terlalu banyak asap. Mereka ditemukan dalam keadaan mengenaskan, sulit untuk dikenali dan terbakar. Itulah terakhir kali di mana aku bisa mengingatnya, karena setelah itu aku pingsan dan dilarikan ke rumah sakit karena luka bakar yang cukup parah.
Aku hanya anak-anak. Aku tidak pernah berpikir terlalu dalam. Aku tidak pernah memikirkan kesendirian. Aku selalu berada di tengah lingkaran, dikelilingi oleh banyak orang. Tapi kini aku berada di pinggiran, sendiri, dan kesepian. Aku hanya ingin kehangatan, tapi yang aku dapatkan adalah dingin yang mencekam. Udara hangat di luar sana tidak mencairkan perasaan beku di dada. Aku merasa…… Kosong. Seperti ketika ada satu bagian dari puzzle kita yang hilang, kita tidak dapat mengenali gambarnya. Begitulah aku sekarang, Ada sesuatu yang hilang, bagian yang terpenting.
“Itu ya, anak yang selamat dari kebakaran besar..” seseorang berbicara, mungkin suster.
“Ya, Mengerikan sekali. Seluruh keluarganya tewas secara tragis, tentu saja dia shock,” sahut suster yang lain.
Aku menguping dari dalam selimut, aku mendengarnya.. Jelas, dan menyakitkan.
“Adakah sanaknya yang datang? Sudah hampir seminggu kan? Tidak baik untuk jiwanya kalau terlalu lama sendiri,”
Aku mencengkram, erat. Kakiku mulai gemetar.
“Sepertinya tidak, dia benar-benar sendiri sekarang. Di mana dia akan tinggal nanti? Kasihan benar.”
“Ya, malang sekali………….”
Tolong… Enyahlah, aku tidak mau dengar, jangan sebut kata ‘sendiri’ di hadapanku.. Jangan kasihani aku, pergi……
Aku mendengar langkah mereka menjauh. Aku keluar dari selimut, memandang ke jendela dan mengamati dunia luar. Matahari sudah berada di atas kepala, orang-orang tampak terlihat senang dan bersemangat. Bahkan beberapa di antara mereka berlari-lari kecil. Aku terus memandang dengan perasaan iri, dengan tatapang kosong yang menerawang. Begitu banyak orang di luar sana, tapi aku di sini, sendiri. Ya, sungguh ironis, mereka di luar sana begitu bahagia, mereka masih punya keluarga untuk saling berkumpul. Dan yang aku punya sekarang hanyalah sebuah boneka beruang dari nenek di ruang sebelah yang sedang sakit Typhus.
Berkali-kali aku menghela napas, air sudah berkumpul di pelupuk mata. Mataku mengarah pada tangan kananku, merah dan terasa sakit. Aku melihat ke arah kaca dan mendapati leherku juga sama keadaannya. Luka bakar ini akan merubah kehidupanku, sedikit demi sedikit untuk perubahan banyak. Yang lebih banyak dari yang aku mungkin menduga.


It isn't finished yet