Kamis, 09 Mei 2013

Laskar Pemimpin

Haai! Akhirnya bersua lagi, mau cerita banyaaak nih :D

Jadi, tanggal 29 April - 2 Mei itu diadain LLK (Latihan Lanjutan Kepemimpinan OSIS) buat anak-anak OSIS dari Al-Azhar se-Indonesia. LLK 4 hari diselenggarain di Cigombong, Bogor, tepatnya tempat yang biasanya kita salam sama satu angkatan. Jadi, kita ber (+)120 orang dari 23 Al-Azhar lainnya bakal di sana buat belajar banyak hal soal kepemimpinan.

Semua dibagi jadi 4 kelompok. Aku di kelompok 1. Kelompok 1 itu anaknya wah deh! Bener-bener beragam + unik, semua deh. Kegiatannya tuh banyak banget. Mulai dari diskusi, presentasi, seminar, drama B.Arab, outbond, outing survey, pokoknya seru deh! Tapi BENER-BENER capek, bubar materi tuh jam setengah 12, tidur jam setengah 1an. Bangun jam? Jam 3 :D Untung udah biasa bangun jam segitu Alhamdulillah, tapi tetep pusing.

Naah kalo ini foto-foto kita di sana!

 







Kamis, 28 Maret 2013

Satu Saat Dimana.....

Satu saat dimana aku merasa capek dan semua yang kulakukan itu gak lain cuma menemui jalan buntu. Seorang teman menenangkan, dan memberi satu renungan.

“I have walked that long road to freedom. I have tried not to falter; I have made missteps along the way. But I have discovered the secret that after climbing a great hill, one only finds that there are many more hills to climb. I have taken a moment here to rest, to steal a view of the glorious vista that surrounds me, to look back on the distance I have come. But I can only rest for a moment, for with freedom come responsibilities, and I dare not linger, for my long walk is not ended.”


Nelson Mandela


Much love Nisa Nurul{} 

Asa Murni Perantau Medan - Part 4

Siang di keesokan harinya hanya seperti hari-hari biasa, jalanan padat dan asap knalpot mobil mengambang di udara. Thursina dengan perlahan menyeberang menuju gang kecil tempat tempo hari ia bertemu pencopet-pencopet itu. Tepat seperti dugaannya, mereka berada di sana sedang menghitung tiap lembar uang yang mereka dapatkan hari itu.
                “Apa itu yang kau bawa?” tanya seorang di antara mereka.
                “Ini? Gitar tradisional Batak, aku bawa ini dari desa,” jawab Thursina dengan senyum simpul.
                “Apa yang bisa ia lakukan?” tuntutnya penasaran.
                Kemudian Thursina mulai memetiknya, satu per satu nada menjalin menjadi suatu melodi, Thursina mulai bernyanyi lembut. Irama sendu mengiringi setiap tarikan napasnya. Bergabung dalam kolaborasi yang luar biasa, seakan berada dalam satu orkestra yang menyenandungkan berbagai nada. Lembut tapi tegas, itulah lagu yang dibawakannya.
                Selama dua menit suasana hening. Ketika Thursina mengakhirinya dengan nada rendah yang pelan, perempuan di depannya mengawali tepukan tangan yang diikuti oleh sisa anggota kelompoknya.
                “Kau tidak tahu betapa menyentuhnya suara kau,” komentar sang perempuan dengan suara bergetar, “Ami,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan
                Thursina menyambutnya dengan lapang dada sambil berkata, “kenalkan, Thursina.”
                Suasana yang pada awalnya terasa tegang kini menghangat. Setiap dari mereka mengapresiasinya dengan baik, setelah perkenalan pendek, Thursina mulai mengatakan maksudnya.
                “Mencopet itu seperti orang yang pasrah akan rezeki Tuhannya. Orang yang sombong karena nyaman pada zonanya dan berhenti berdoa,”  kata Thursina,“orang Batak itu diberi kelebihan oleh Tuhan bakat menyanyi. Tak malukah kau mencuri sementara kau bisa mengamen?”
                “Mengamen itu dapatnya sedikit!” timpal yang berbadan kecil dengan keras.
                “Orang sukses itu mulai dari hal kecil dan menerima yang kecil. Semua orang juga mau langsung berpenghasilan besar! Tapi apakah hal itu akan bertahan? Bisa saja besok kalian tertangkap dan masuk penjara!” bantah gadis itu bertekad.
                “Tapi dia benar, ingatkah kalian saat kita dikejar sampai terminal? Seandainya tak ada Ucok, bisa saja sekarang kita ada di balik jeruji,” belaTiur yang paling pendiam di antara mereka.
                “Ya! Kita nyanyikan lagu-lagu Batak dan gunakan kain ulos, sambil mencari penghasilan kita lestarikan budaya!” kata Ucok semangat. Dia tampak merupakan satu-satunya yang pernah mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah.
                “Lalu kenapa tidak kita coba dari sekarang?” tantang Thursina, membuka tas-nya dan mengeluarkan kain ulos yang dia bawa dari Gunung Tua. Bersama-sama, mereka menuju jalan raya yang ramai.
                Lampu merah itu cukup lama, Thursina memberi isyarat menunduk kepada salah satu pengendara mobil. Sambil memetik gitarnya, ia bernyanyi.
                Langge inang da na dipor lakta inang da, manang so langge inang da manang solang gepe inang da… O pi-o o pi-o lao tu di ana maho o pi-o…” lantun Thursina mendayu dengan sendu.
                Sementara itu di sampingnya Ucok berjingkrak-jingkrak dengan kain ulos bernyanyi ceria,”Sinanggar tullo a tullo a tullo.. Sinanggar tullo a tullo a tullo.. Sinanggar tullo a tullo sinanggar tullo a tullo sinanggar tullo a tullo..”
                Lagu sinanggar tullo begitu menggambarkan keceriaan mereka di hari itu. Semakin terik matahari, semakin banyak peluh yang membasahi, namun demikian pula dengan kantung mereka yang semakin lama semakin terisi oleh selembaran uang bergambar Pattimura dan Pangeran Antasari.
                Begitulah akhirnya hal itu menjadi rutinitas baru mereka di kemudian hari. Tersenyum, Thursina bertekad tidak akan membiarkan grup kecil mereka ini kembali pada keterbelakangan moral seperti sebelum mereka dipertemukan. Suatu saat nanti ia akan mengajak grup kecilnya itu, ke rumah singgah “Langit Biru,” seperti yang pernah diceritakan tulangnya.
                “Langit Biru”, Sebuah sekolah khusus untuk mereka yang lahir dan hidup dirangkul talenta seni, sastra dan musik, sekolah yang disebut ‘rumah singgah’namun selalu menetap di hati. Sekolah yang sejak dahulu diimpikan oleh Thursina, agar mereka dapat mengenyam pendidikan dan mengembangkan bakat seninya. Di panggung besar yang bertirai nanti, ia berharap bersama grup kecilnya mereka akan taklukkan dunia beserta ribuan pasang mata di dalamnya.
 ***

Asa Murni Perantau Medan - Part 3


Sebuah tangan besar memukul keras dinding yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari matanya.
                “Siapa namamu?” tanyanya.
                “Thursina,” jawab gadis itu pendek.
                “Thursina?” berkali-kali mereka mempertanyakannya dengan nada heran, berkali-kali pula gadis itu menjelaskan ulang. Nama itu terasa asing di telinga mereka.
                “Aku ini datang dari Gunung Tua, di sana. Sumatra Utara, tahukah kalian?” jawab Thursina.
                “Medan?” tanya mereka kembali, diiringi gelengan membantah darinya.
                “Tidak sampai, jauh kali jarak dua tempat itu. Gunung Tua itu desa,” paparnya dengan dahi berkerut. Memegangi tas koran dan barang asongannya dengan tegang. 
                Lawan bicaranya seorang remaja tinggi besar berperawakan keras. Kulitnya coklat gelap terbakar matahari ibu kota, di berbagai tempat seperti leher dan punggung tangannya terlihat urat-urat bertonjolan dan bekas luka-luka tua yang tak tersembuhkan. Seakan memberi penyaksian bisu atas apa yang telah ia lakukan untuk mengisi harinya.
                “Lepas,kata Thursina tegas mencoba menghentakkan tangannya yang ditahan.
                “Tidak, kecuali kau bergabung dengan kami, atau berhenti mengasong di wilayah kami!” balasnya dengan suara serak mengancam.
                Wilayah kalian? Kemanakah otak kalian? Kota ini milik bersama, siapa saja berhak mencari penghasilan di sini, camkan itu!” sanggah dara tersebut dengan suara tinggi.
                “Kau yang tak pakai otak! Jangan berani-berani tantang kami, habis sudah kau ini!” balas sang pria dengan keras.
                “Kapan kutantang kau? Yang tantang aku itu kau!” potong gadis itu.
                “Diam! Kau mau mati?” ancam mereka, pria dan wanita yang berkeliling di sekitarnya. Jelas sekali mereka adalah preman wilayah.
                “Tidak sekarang dan tidak di sini, hanya pecundang yang mati lemah!” jawab Thursina membantah.
                Namun yang bisa ia lihat hanya pergerakan tangan yang cepat sebelum iya merasakan dorongan yang begitu kuat di pipi kirinya. Ngilu dan nyeri luar biasa ia rasakan beberapa saat setelah mendeteksi rasa anyir khas darah berkumpul di mulutnya.
                “Aaaargh! Puuuhh!” lepehnya sambil terbatuk-batuk, darah mengalir keluar dari gusi yang beradu dengan gigi-giginya.
                Tawa mereka terbahak-bahak seakan gadis itu lelucon siang. Gelang-gelang dan anting yang menghiasi tubuh anak-anak jalanan itu bergemerincing. Lidah mereka yang ditindik tampak semakin menghinanya.
                “Jangan kembali lagi, ini daerah kami!” dia mencibir diiringi tawa kawan-kawannya.
                “Tidak sampai kudapat pekerjaan paruh-waktu yang layak!” balas Thursina dengan emosi membuncah, sebelum ia mengayunkan tasnya yang berat ke tulang kering laki-laki itu, dan menambahkan pukulan keras tepat di perutnya.
                Raungan kesakitan terdengar samar-samar dari mulut  laki-laki itu ketika layangan tinju Thursina mengenai tubuhnya. Tidak percuma Thursina belajar bela diri di kampungnya.
                “Tak tahukah kalian betapa besar dosa mencuri itu? Tak diajarkankah?” tanya Thursina ketus.
                “Siapa yang akan ajar kami? Jakarta itu keras, jika kami lembek tak bisalah kami bertahan hidup di sini tahu!” cibir anak-anak jalanan itu.
                “Tuhan itu tidak buta! Tidak pula tuli dan bisu! Setiap yang kalian lakukan Dia akan lihat dan simpan balasannya untuk nanti. Setiap keluh kesah yang kalian ucapkan, Dia dengar itu!” balas Thursina.
                Mereka terdiam. Thursina merasakan emosi membuncah di dadanya, menarik napas panjang sebentar, kemudian ia melanjutkan bicara.
                “Jangan sekali-kali kau pikir mencopet itu jalan pintas untuk bertahan hidup! Kau bisa lakukan banyak hal, malulah dengan usia kalian yang masih muda begitu pasrah sampai mencopet!” lanjutnya menasehati.
                “Lalu apa yang kami lakukan selain mencopet?” tanya seorang di antara mereka dengan serampangan.
                “Akan kutunjukkan besok. Camkan itu! Tak pantas kau mengaku sebagai orang Batak tapi tak mau banyak usaha. Bukan budaya kami sama sekali, ujarnya sambil menutup pembicaraan.
***

Asa Murni Perantau Medan - Part 2


“Bu, aku pamit dulu. Sertai perjalananku dengan doa ya,” bisik Thursina ke telinga ibunya, tangan mereka berpegangan erat layaknya seseorang yang akan berpisah.
                “Jaga diri, ya Nak. Kehidupan di sana tidak mudah, belajar di sekolah yang baik. Jangan kau kecewakan ibumu ini yang sudah kasih izin kau merantau,” timpal ayahnya dengan nada serius.
                “Iya, Yah. Aku janji, aku juga akan usahakan tak repotkan kalian di sana. Aku akan cari penghasilan sendiri,” jawabnya pelan.
                “Hati-hati,” itulah yang ibu ucapkan karena sisa perkataannya ditenggelamkan oleh isakan sedih.
                Sebelum gadis itu pergi dengan menumpang truk tetangganya menuju kota, ia melambaikan tangan dengan sedih. Tapi di dalam hatinya ia merasakan desiran semangat sekaligus rasa takut. Untuk menyambung pendidikan, dengan berani Thursina hendak menyusul pamannya, merantau ke Jakarta untuk mencari SMA yang bagus sekaligus belajar mandiri.
***
                Dengung dan derum kendaraan di Jakarta seakan menggema di telinga Thursina, ia sampai di Terminal Kalideres yang ramai. Berbagai orang dari berbagai jenis kalangan sosial berseliweran, dapat dibedakan dari cara berpakaiannya. Dengan celingukan, Thursina mencari pamannya, yang dalam bahasa batak ia panggil ‘tulang’.
                “Thursina!” seseorang menepuk pundaknya. Sontak, ia terlonjak kaget.
                “Tulang! Astaga, aku kaget tau,” ujarnya jengkel.
                “Lebih baik selalu waspada dan jangan melamun, Jakarta tidak aman. Bisa saja sedetik kau melamun, dompetmu sudah raib.” kata tulang Riza memperingatkan. Di sampingnya, Thursina mengangguk-angguk sambil mengikuti beliau menuju sebuah motor tua yang akan mengantar mereka ke rumah tulangnya.
***
                Hari berganti hari, setiap fajar yang dilewatinya di Jakarta tidak pernah seindah yang dilihatnya di desa. Namun hal tersebut bukan merupakan masalah. Tak terasa, Thursina sudah menginjak bulan keduanya di sebuah SMA negeri, untuk memperoleh uang saku dan membeli alat-alat perlengkapan sekolah, setiap hari ia mengasong sekaligus menjual koran.
                “Tulang, aku masuk ya!” pamit Thursina di parkiran sekolah, tulangnya merupakan seorang guru honorer di sekolahnya, beliau mengajar pelajaran Matematika.
                “Ya, belajar yang benar ya. Kamu bersekolah di sini gratis karena kebijakan pemerintah, jangan sekali-kali kau sia-siakan hal tersebut,kata Beliau mengingatkan keponakannya itu.
                “Pasti tulang, jangan khawatir,” senyum simpul merekah di bibir Thursina.
***
                “Air mineral, Bu? Permen dan korannya?” tawar Thursina pada seorang ibu yang sedang menyetir sebuah mobil sedan.
                “Air mineral satu,” jawabnya sambil membayar. Tak lama, lampu menunjukkan warna hijau dan ia melaju.
                Thursina berdiri di bawah terik matahari, menunggu lampu merah selanjutnya dan menawarkan barang-barang. Namun tiba-tiba seorang pemuda menabrak dan merampas tas pinggangnya yang berisi hasil asongan, dengan sigap ia  menangkap tangan pemuda itu.
                “Kembalikan tasku!” perintah Thursina dengan nada berani walau sebenarnya sedikit getar takut terasa di dadanya.
                Dia menengok dan mernyeringai. Penampilannya kumal dan tidak terawat, di telinganya banyak anting yang berderet. Dengan suara serak dia berkata,”Hebat juga kau bisa sadar. Nih, tangkap!”
                “Jangan kira kau bisa membodohiku,” jawab Thursina jengkel, menangkap lemparan pemuda itu, “Kau pencopet?”
                Pemuda itu hanya mencibirkan bibirnya, kemudian ia berkata,”Tak ada gunanya kau berjualan seperti itu, yang kau hasilkan tidak sebanding dengan tenaga yang kau keluarkan. Ikut sini!”
                “Ke mana?” tanya gadis itu dingin, dengan tatapan mata tajam seolah tak peduli, ia kemudian mengatakan, “Aku tidak kenal kau siapa.”
                Ikuti saja kataku! Kalau kau masih ingin mengasong di wilayah kami,” ujarnya dengan cukup kasar.
                Kali ini balik Thursina yang ciut nyalinya, akhirnya dia mengikuti sang pemuda dengan berjalan malas-malasan ke sebuah gang kecil. Di sana ia melihat banyak anak-anak seusianya yang berpakaian serampangan, lusuh, dan bertato.
                “Dengarkan cara bicaranya!” perintah pemuda itu pada kawan-kawannya sambil mengedikkan kepala ke arah Thursina.
                “Apa maksud kau?” kata Thursina heran dengan kening berkerut.
                “Ahhhh!” seorang wanita di antara mereka berteriak kaget, “Kau ini orang Batak! Pasti kau baru di sini?”
                “Bagaimana kau tahu? Apa hubungannya? Apa mau kalian?” tuntutnya semakin jengkel karena merasa dikerjai.
                “Logat kau kentara sekali,” sambung seorang pemuda berbadan mungil di pojok.
                “Kami ini semua orang batak, kecuali dia dan dia,” jelas pemuda yang pertama menunjuk dua orang di depannya.
                “Kau juga! Gabung dengan kami dan jangan mengasong. Kau hanya akan dapat capeknya!”  perintah si wanita
                Dengan cepat Thursina menggeleng dan berkata keras,”Lebih baik aku kehabisan tenaga dan mendapat uang sedikit tapi dengan cara yang benar daripada mencopet seperti kalian!”
                Gelak tawa memenuhi udara, nada mereka meremehkan dan tidak percaya. Namun, Thursina masih tetap berdiri di tempatnya, berusaha tenang dan mengendalikan diri.
                “Tak ada lagi yang perlu kubicarakan,” tutupnya dingin sambil berbalik.
***

Asa Murni Perantau Medan - Part 1


Fajar baru saja menyingsing di Timur sana. Tampak mentari masih enggan bangun dan udara dingin masih terasa menusuk tulang. Saat orang-orang masih terlelap pulas. Namun tidak dengan dia, mengayuh sepedanya melintasi pematang sawah, melangkah menuju sekolahnya dengan pasti.
Keringatnya mengalir di pelipis, napasnya sedikit terengah-engah. Kaos putihnya sudah lembab akibat keringat, tapi wajahnya berseri-seri penuh semangat. Gadis itu tetap mengayuh sepeda tuanya yang terlihat berkarat di beberapa tempat dengan mantap. Dia mengenakan rok berwarna biru tua menandakan identitasnya sebagai murid SMP.
                Namanya Thursina Nauli Harahap, dia tinggal di pelosok Sumatra, di Desa Gunung Tua Jaya yang berjarak beberapa jam dari Kota Medan. Dia duduk di kelas IX SMP Bintang Timur, setiap hari dia menuruni bukit dengan sepeda tua milik ayahnya, melewati persawahan dan menyeberangi jembatan gantung untuk pergi ke Desa Padang Bolak, tempat dimana dia bersekolah setiap hari.
                Dengan gigih hal tersebut ia lakukan setiap hari, ayahnya seorang buruh yang rajin, dengan penghasilannya yang pas-pas an dan dibantu ibu yang menerima pesanan makanan untuk perayaan-perayaan, mereka berhasil menyekolahkan kedua kakak Thursina sampai lulus perguruan tinggi. Kedua kakaknya sudah merantau ke pulau Jawa, mencoba mandiri dengan mencari penghidupan di luar tanah kelahiran mereka.
                Orang Batak terkenal akan sifat mereka yang gigih dan pantang menyerah. Namun diiringi juga dengan sifat keras kepala serta harga diri yang tinggi. Dalam kamus mereka tidak ada kata bermalas-malasan dalam hidup, cita-cita mereka selalu terpaut tinggi dan ikatan moral yang sudah ditanamkan sejak bayi menjadi akar yang menjaga mereka agar selalu menjejak bumi.
***
                Pengumuman kelulusan baru saja diselenggarakan di sekolahnya, Thursina dan ibunya pulang dengan hati berbunga-bunga. Gadis itu berhasil meraih nilai akhir yang memuaskan dan tertinggi di sekolahnya. Pikirannya melayang akankah dia bisa menggapai cita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi dengan kondisi ekonomi orangtuanya yang cukup sulit. Sesampainya di rumah Thursina terkejut disambut oleh sang ibu yang ternyata telah membuat pangupa sebagai tanda syukur atas kelulusannya.
“Nak, setiap makanan yang ada di tampah ini memiliki arti tersendiri, itulah mengapa ibu buatkan pangupa ini untuk rayakan kelulusanmu, ini juga merupakan doa dari ibu padamu, Nak,” Ibu menjelaskan maksudnya dengan lembut.
“Pertama, kepala kambing menggambarkan kekuatan, tapi tidak selalu harus kepala kambing, kalau acara keluarga kita cukup memakai ayam panggang utuh. Tapi sebaliknya, jika kau adakan acara besar dan punya banyak rezeki, kau bisa memotong kerbau dan kepalanya kau gunakan untuk pangupa,” ujar ibunya kemudian sambil menghela nafas.
“Kedua, ikan mas di kanan-kiri melambangkan bahwa selalu ada yang mengiringi kita dalam hidup ini, yaitu keluarga kita. Ketiga, telur. Telur dan garam menunjukkan kepulihan semangat kita, ibaratkan telur itu sebuah benih. Keempat, udang dan daun singkong. Udang yang bentuknya selalu bengkok menyuruh kita untuk selalu rendah hati, kapanpun dan siapa pun kita, sedangkan daun singkong yang diikat melambangkan tali persaudaraan yang selalu erat. Dan lauk-lauk lainnya ada untuk menambah stamina kita, kata ibunya.
                Thursina terdiam. Tapi kemudian dia membuat kesimpulan, “Bagus kali ya, Bu, makna dari semua ini. Kalau saja kita semua memahami dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita akan jadi pribadi yang kuat.”
                “Dan pribadi yang kuat, akan membawa kita pada kesuksesan, kesuksesan itu berawal dari mimpi. Selama kita selalu berpegang teguh pada keyakinan dan berdoa kepada yang Maha Mencipta, tentu bukan tak mungkin suatu saat kau jadi orang besar,” tambah ibu.
“Ibu sangat bersyukur punya anak secerdas kau, nak. Ibu selalu mengiringi setiap langkahmu dengan doa, seperti yang dilambangkan ikan mas. Karena itu jangan takut untuk bermimpi. Kau akan berhasil meraihnya, Nak!” kata ibunya sambil berkaca-kaca.
Thursina tersenyum lebar. Ia langsung memeluk ibunya erat, orang yang sangat dicintainya, orang yang selalu ada saat ia membutuhkannya. Dalam hati gadis itu berjanji akan membahagiakannya.
“Bu? ” tanya Thursina tersendat.
“Ya, ada apa nak?” jawab ibu sambil mengelus kepala Thursina.
“Bu, bagaimana kelanjutan sekolahku?” tanyanya tegang.
“Ibu tahu kau pasti menanyakan hal itu, walau berat kami memutuskan kau akan kami titipkan tulangmu yang di Jakarta,” jawab ibunya dengan nada sedih.
“Bu, aku janji, aku pasti buat ibu bangga. Nanti, pasti.” gumamnya sambil mengeratkan pelukan. Dia dapat merasakan, getar dada ibunya yang menangis terharu. 
Burung wallet yang beterbangan dan mentari sore yang bersinar itu pun menjadi saksi bisu janji tulus seorang anak pada ibunya.
***